Kamis, 15 Januari 2015

Move On

Meski tak memilih Pak Jokowi (golput), saya tak akan mengejek teman-teman yg selama ini mendukung beliau dg fanatik (bahkan ada yg taktiknya cenderung kasar) tapi lalu kecewa. Politik bukan cuma ttg pesona/kharisma individu. Tapi, tentang kebijakan publik bagi kemaslahatan seluruh warga negara. Presiden cuma satu faktor saja. Dan bukan segala-galanya. (Farid Gaban)

Privatisasi Kesehatan

Kepedulian negara thd kesehatan warga ditentukan oleh seberapa banyak anggaran yg dikeluarkan pemerintah. Menurut WHO, negara harus menyisihkan sedikitnya 5% dari GDP-nya utk kesehatan. Di Indonesia cuma 1,3% GDP; lebih rendah dr Kamboja (2,1%) dan Timor Leste (5,5%). Bahkan di "negeri kapitalis" spt Jepang, Prancis atau Australia, peran publik dlm bidang kesehatan sangat kuat: negara menanggung 75-80% biaya kesehatan warga. Di Indonesia cuma 60% pada 2012, itupun dg kualitas layanan yg rendah. BPJS tidak mengurangi kecenderungan privatisasi itu, malah mendorong privatisasi semakin jauh, mencerminkan kepedulian negara yg makin rendah. (Farid Gaban)

Rabu, 14 Januari 2015

Peribahasa

Nabok nyilih tangan [Jawa] = lempar batu sembunyi tangan [Indonesia] = not taking responsiblity for one's own deeds [English]. (Farid Gaban)

Demi Sensasi

kenapa sih susah sekali orang-orang yang berwenang untuk taat pada prosedur? mengapa para profesional ini tidak menahan diri untuk berbicara kepada pers, untuk sedikit berempati pada keluarga korban? juga insan persnya sendiri, kenapa sering abai atau enggan menguji kembali: apa manfaatnya liputan macam ini bagi kepentingan umum?... (Harry Wibowo)

Nampar atau Nabok

Jokowihaters: "KPK menampar Presiden Jokowi". Jokowilovers: "Presiden Jokowi cerdik memperalat KPK". Menurutku, manapun interpretasinya, buruk bagi KPK ketika sebuah lembaga hukum terlibat, melibatkan diri atau dilibatkan, dalam urusan politik. Cepat atau lambat akan merusak kredibilitas lembaga itu sendiri. Dan menghancurkan satu-satunya harapan negeri ini. ‪#‎IMO‬ (Farid Gaban)

Selasa, 13 Januari 2015

Pemiskinan

Ketika harga BBM dilepas sesuai harga pasar, yang bisa naik maupun turun setiap waktu, demikian pula semestinya tarif angkutan umum dan harga harga2 kebutuhan pokok yg dipengaruhinya. Pemerintah kini tega memaksa rakyat miskin dan rentan-miskin naik roller-coaster kehidupan. Tapi, bahkan roller-coaster mungkin bukan analogi yg tepat. Tarif angkutan dan harga kebutuhan pokok yg sudah terlanjur naik, sulit turun meski harga BBM turun. Fenomena apa yg bisa diprediksi selain proses pemiskinan? (Farid Gaban)

Ouch

Kebodohan itu bisa lintas bangsa dan agama. Steve Emerson, "pakar terorisme" Amerika, mengatakan dlm wawancara dg Fox News bahwa Brimingham (Inggris) adalah kota yg sepenuhnya Muslim, lengkap dg polisi syariah. Tidak terlalu heran mengapa begitu rendah standar Fox utk memilih seorang "pakar". TV ini milik Rupert Murdoch. (Farid Gaban)

Senin, 12 Januari 2015

Rujuk

Budi Gunawan didukung Koalisi Merah Putih yg menguasai DPR. Setelah bail-out Lapindo, penunjukan Kapolri adalah simbol rujuk Kubu Jokowi dan Kubu Prabowo. ‪#‎eh‬ (Farid Gaban)

Rupert Murdoch

Kalau kita mau memakai logika Rupert Murdoch, konglomerat media, maka setiap orang Kristen bertanggungjawab atas teror dan pembantaian di Afghanistan ini [drone Amerika juga dipakai di Pakistan, Yaman, Somalia]. Tapi, saya tak setuju logika Murdoch yg mengatakan "semua dan setiap Muslim bertanggung jawab atas teror di Paris". (Farid Gaban)

Minggu, 11 Januari 2015

Caca Handika

Penemuan baru: sekarang lagi musim musisi dangdut jadi radikal. Setelah Marxist Manja Grup, sekarang Caca Handika juga sudah memeluk "Marxist Kami" (Mochamad Abdul Manan Rasudi)