Kamis, 19 Februari 2015

Paradoks Efisiensi

Kemajuan ilmu-teknologi memungkinkan perusahaan memproduksi barang (mobil, kulkas, lampu, AC) yg hemat energi dan murah. Tapi, mengapa konsumsi energi justru terus meningkat? Karena makin murah sebuah produk, makin banyak produk itu dijual dan dipakai; jika perlu sekali pakai dan buang karena murahnya. Efisiensi energi akan sia-sia jika kita tidak mengimbanginya dg gayahidup minimalis: hidup sederhana, sedikit barang, hemat uang, bekerja lebih sedikit dan karenanya lebih banyak waktu senggang untuk menikmati hidup. (Farid Gaban)

Nabok Nyilih Tangan

Katanya nabok nyilih tangan. Ternyata yang ditabok adalah (para komisioner) KPK dan konvensi hukum kita. Jadi, siapa yang Anda selamati, masuk kotaknya kasus BG, atau macetnya penyelidikan kasus 'release and discharge' BLBI?! (Tarli Nugroho)

Rabu, 18 Februari 2015

Penggal

Semua berita tentang ISIS yang kita baca hampir selalu mengandung kata penggal. Informasi bengis dalam kata "penggal" ini mengantarkan asosiasi mengerikan, kepala manusia yang terpisah dari tubuhnya akibat dipenggal dengan senjata tajam sekali tebas. Tapi, gambar atau video aksi brutal ISIS itu menunjukkan pelaku memegang belati, yang mustahil dapat memotong dengan sekali tebas. (Eko Endarmoko)

Selasa, 17 Februari 2015

Krisis Hukum dan Konstitusi

Masalah yang kita hadapi sejak Reformasi memang adalah kepala negara dan kepala pemerintahan yang tidak kompeten, terutama dalam mengambil tanggung jawab untuk memandu kita keluar dari krisis hukum dan konstitusi. Jangan lupa, pangkal dari politik hukum adalah presiden, dan isu krisis konstitusi bukanlah bualan omong kosong. (Tarli Nugroho)

Senin, 16 Februari 2015

Inkompetensi

Inkompetensi seorang pemimpin telah membuat kita terjebak pada konflik antar-lembaga penegak hukum dan komplikasi yang serius dalam interpretasi hukum.

Tantangan Umat Beragama

Tantangan umat beragama ke depan sepertinya bukan saja membangun dialog antar- dan intra-agama, tapi juga membangun dialog dengan berbagai bentuk ketidakberagamaan ("irreligiousities") dan ketidakberimanan ("unbeliefs") kontemporer. Seperti dengan ateis fundamentalis yang membunuh tiga mahasiswa Muslim Amerika itu.

Jumat, 13 Februari 2015

Alex Komang

Tiga tahun lalu Alex Komang datang ke Wonosobo utk menyemangati komunitas pembuat film di kota kecil kami. Beberapa kali kemudian obrolan kami di warung kopinya di Duren Tiga, Jakarta Selatan, selalu mengasyikkan. Kabar mendadak, malam ini dia meninggal dunia. Rest in peace, Selamat Jalan, Mas Alex. (Farid Gaban)

Menambang Akik

Beginilah sulitnya menambang batu akik/intan di Martapura, Kalimantan Selatan. Buruh perempuan masuk terowongan sempit bawah tanah, dengan pasokan oksigen dari kompresor tambl ban. "Panas, sakit kepala dan sesak nafas di dalam sana," kata Khosiah, berupah Rp 20 ribu/hari utk menjudikan nyawanya.

Toleransi

Lingkaran tak bisa menyalahkan segitiga dengan alasan segitiga itu bersudut. (Multatuli)

Spiral Kekerasan

Kekerasan bisa dimulai dengan memainkan perasaan diri menjadi korban. "Playing the victim game". Merasa diri menjadi korban, kita merasa memiliki alasan moral utk membalas, menghukum dan jika perlu membunuh. Dari sinilah kekerasan bermula dan potensial menjadi besar. Semakin besar. Hati-hati dengan klaim "Ahmadiyah atau Syiah menista kita kaum Muslim." Padahal yg terjadi cuma perbedaan interpretasi terhadap Islam. Orang bisa menipu diri menjadi korban hanya untuk memuaskan hasrat kekerasan terhadap kelompok lain. (Farid Gaban)