Sabtu, 29 Agustus 2015

Gelombang

Gelombang besar menyerbu sebuah kampung nelayan. Air setinggi dua puluh meter segera memporak-porandakan bagang dan menyapu seluruh perahu yang ditambatkan di muara. Dalam tempo yang singkat, tanggul-tanggul di sepanjang pesisirpun jebol.

Para nelayan yang berumah di bibir pantai segera berlarian, berkejaran dengan berkubik-kubik air yang datang menggelegak. Teriak dan tangis mereka tenggelam disapu suara hujan dan halilintar. Sebelumnya hujan memang tak juga reda sejak dua hari silam.

Di sebuah rumah yang cukup jauh dari pesisir, sedang terjadi pertengkaran.

"Kalian dengar?! Gelombang besar itu sudah datang," ujar seorang lelaki tua, sembari mengemasi pakaiannya.

"Ah, kau ini paranoid. Ini cuma banjir biasa. Lihatlah, genangan air di halaman depan kita tak lebih tinggi dari banjir musim kemarin," ujar seorang lelaki lebih muda, sesudah menjulurkan mukanya keluar jendela.

"Kau lupa anomali cuaca yang terjadi dalam tiga minggu terakhir?!" hardik si orang tua.

"Ya, itu memang aneh. Tapi jangan terlalu khawatir. Kita paling hanya akan kehilangan semua lele di kolam belakang gara-gara hujan sialan ini. Itu tak seberapa jika dibandingkan seluruh empang di dekat pesisir yang telah jebol sejak kemarin," ujar seorang perempuan menengahi. Ia terlihat santai menyajikan kudapan yang baru digorengnya.

"Kalian dengar suara air itu?" lelaki tua itu kelihatan semakin panik.

"Air itu sudah tumpah sejak dua hari lalu! Hei, kau mau kemana?! Lebih baik duduk sajalah, minum kopi sembari menunggu hujan keparat ini reda," ujar lelaki yang lebih muda.

"Kenyataan bahwa gelombang itu belum sampai ke sini tidak berarti bahwa gelombang itu tidak ada," ujar lelaki tua. Tapi dia sendiri masih berharap-harap cemas dengan keyakinannya. Itu sebabnya ia tak segera beranjak.

Dari mulut muara, air yang menggunung tadi terus berhamburan ke pedalaman. Suara hujan dan halilintar keras bersahutan.

(Tarli Nugroho)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar