Jumat, 09 Oktober 2015

Ekspedisi

Membaca “Pulau Run” karya Giles Milton, teranglah kini bahwa ekspedisi mestinya adalah jalan pedang. Sebuah ikhtiar untuk menemukan sesuatu yang berharga, yang dicari dan diharapkan berguna bagi manusia; di mana pun tempatnya. Jalan yang hanya bisa ditempuh oleh manusia-manusia yang memiliki ketabatan dan keberanian seribu pendekar. Mereka, manusia-manusia yang rela menembus bahaya dan kesepian tentu punya motif ekonomi [ekspedisinya diongkosi dan lain sebagainya], tapi tak semua orang akan memilih untuk menukarkan hidup mereka hanya demi mendapatkan rumah yang hangat, perempuan seksi, minuman yang paling durjana, dan hidup yang lebih baik, bila risikonya adalah kematian.

Dan perjalanan ke Pulau Run, salah satu pulau di Kepulauan Banda [yang lebih tiga abad lalu namanya di peta ditulis besar-besar di luar proporsi geografisnya] untuk menemukan komoditas yang paling berharga melebih apapun saat itu yaitu pala, cengkih, dan rempah-rempah, adalah ekspedisi yang paling mengerikan dan mematikan. Ratusan ekspedisi dari kapal-kapal kayu Eropa yang dikirim menemukan kepulauan rempah-rempah [Ternate, Tidore, Maluku dan Banda] kandas diterkam ombak di berbagai samudera. Membusuk di karang-karang, menjadi kerangka di tepi pulau yang asing dan di lautan es. Hanya beberapa kapal yang akhirnya sanggup mencapai kepulauan rempah-rempah, dan dari beberapa kapal itu hanya sedikit yang benar-benar bisa mencapai Run.

Surga yang di atas tebing-tebingnya menghadiahkan sesuatu yang lebih berharga dari turunan emas. Sebuah hutan pepohonan tinggi dan ramping yang merumbai di punggung pegunungan, pepohonan dengan aroma yang sempurna. Tinggi dan dan ditumbuhi dedauan seperti pohon salam, dihiasi bunga-bunga berbentuk lonceng dan menghasilkan buah sekuning jeruk berdaging tebal. Para botanis menyebutnya “myristica fragrans”. Para pedagang dan tengkulak di Inggris mengenal tumbuhan ini sebagai pala.

Saat itu di abad ketujuh belas, pala adalah kemewahan dan paling diidamkan di Eropa. Satu jenis rempah yang dipercaya memiliki khasiat pengobatan begitu hebat sehingga orang-orang akan mempertaruhkan nyawa mereka untuk memperolehnya. Harganya selalu mahal, dan semakin mahal ketika para tabib di zaman Elizabeth di London mendaku, bola-bola aromaterapi yang dibuat dari pala adalah satu-satunya penawar untuk wabah sampar yang menular, penyakit yang diawali dengan bersin dan diakhiri dengan kematian itu. Dalam semalam, kacang kecil keriput itu [hingga kini digunakan untuk menyembuhkan perut kembung dan demam] menjadi benda yang diburu layaknya emas.

Di London, harga lima kilo pala bahkan dijual hingga lebih dari £2,1 atau lebih mahal 60 ribu per sen dari harga yang bisa dibeli di Kepulauan Banda yang harganya hanya satu penny. Sekantung kecil penuh pala, akan bisa membuat seseorang berkecukupan seumur hidupnya: membeli sebuah rumah dengan atap runcing di Holbron, lengkap dengan pelayan untuk melayani segala kebutuhannya; tapi pala bukan komoditas yang mudah ditemukan. Kepulauan Banda dan terutama Pulau Run adalah dongeng yang tak seorang pun di Eropa bisa memastikan kepulauan itu benar-benar ada.

Para pedagang rempah di Konstantinopel nyaris tak memiliki informasi tentang Kepulauan Banda, dan apapun yang mereka tahu juga nyaris tak memberikan semangat. Ada cerita tentang para kanibal dan pemburu kepala manusia. Ada kabar burung tentang monster pemangsa kapal. Ada buaya-buaya yang bersembunyi di sungai. Kepulauan Banda dan Run menjadi misteri, dan ke sanalah, ratusan ekspedisi dari Eropa berisi manusia-manusia paling nekat yang direstui oleh raja, diongkosi para saudagar dan tengkulak, dikirim untuk menjadi yang pertama mendapatkan pala dari sumber pertama.

Pada akhirnya ketika pulau-pulau rempah dan juga Kepulauan Banda dan Run ditemukan dan ditaklukkan oleh para petualang itu, ekspedisi-ekspedisi dari Eropa terus dikirim ke penjuru dunia untuk mencari sesuatu yang berharga itu. Manusia-manusia paling berani dikirim dan dibiayai bukan untuk pelesiran, menghabiskan uang dari sponsor dan donatur lalu menjadi kondang, melainkan untuk menemukan sesuatu yang berharga bagi manusia, meski kemudian semua “sesuatu” itu mereka rampok dan mereka kuasai. Ekspedisi bagi mereka adalah jalan sunyi yang mematikan yang bahkan iblis pun mungkin tak pernah memohonkannya pada Tuhan. Bukan sebuah kesempatan yang mengulang-ulang atau tamasya yang biasa-biasa saja.

(Rusdi Mathari)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar