Selasa, 01 Desember 2015

Tentang Maaf UKSW

Hari ini secara beruntun saya menerima tautan berita yang sama lewat tag di Dinding FB. Yakni berita tentang permintaan maaf dan penghargaan dari YPTKSW “kepada Arief Budiman dan seluruh pihak yang turut serta di peristiwa tersebut”. Tidak jelas apa dan siapa yang dimaksud dengan “seluruh pihak yang turut serta“. Juga tidak jelas diakui apa yang salah, sehingga permintaan maaf diajukan.


Tanpa mengurangi terima kasih kepada mereka yang memberikan tag, saya memutuskan untuk tidak menampilkan semua berita itu di Dinding FB saya. Sebagai gantinya, saya menulis tanggapan ini.

Perdamaian yang dicapai YPTKSW dan Arief Budiman layak dihargai dan dihormati. Itu hak mereka. Sebagai pihak ketiga dan sekaligus mantan pihak yang pernah terlibat langsung dengan konflik di UKSW, saya kira ada yang layak disesalkan. Yakni, apabila (1) sikap Arief Budiman dianggap mewakili "seluruh pihak yang turut serta di peristiwa tersebut”; dan/atau (2) peristiwa manis tukar-menukar hadiah di Melbourne yang ditayangkan dalam acara Dies Natalis UKSW (30/11/2015), dianggap menandai "selesainya" masalah skandal yang terjadi di UKSW dari pertengahan 1980an hingga 1990an.

Dari laporan “perdamaian” itu sendiri tampaknya YPTKSW masih belum mau atau mampu memahami dengan baik pokok utama persoalan. Mereka masih mengulang kesalahan memilih usaha mengatasinya.

Ketika terjadi gejolak konflik internal di kampus UKSW, pihak pimpinan dan pengurus UKSW menilai semua ini pada dasarnya disebabkan oleh Arief Budiman telah menghasut warga kampus untuk memusuhi Pimpinan kampus. Maka yang ditegur-diperingatkan-dipecat adalah Arief Budiman. Diduga, apabila “dalang” atau “aktor intelektual” (begitu bunyi logika politik Orde Baru) disingkirkan, maka persoalan di UKSW akan selesai. Persoalan struktural yang internal dalam tubuh kelembagaan UKSW disangkal dan direduksi menjadi persoalan “oknum” individu yang "tidak Kristen".

Ternyata dugaan itu salah. Ketika Arief sudah lepas tangan soal UKSW dan sibuk dengan masalah lain yang dikatakannya “lebih penting ketimbang UKSW”, gelombang gugatan warga kampus UKSW terhadap pimpinan UKSW malahan menjadi lebih dashyat.

Namun, masih saja pimpinan UKSW tidak mau memperbaiki pemahaman dan wawasannya. Malahan ada yang bertanya: “mengapa kalian membela Arief?” Pihak yang ditanya masih sabar menjelaskan, mereka sama sekali tidak membela Arief. Mereka hanya membela dasar dan cita-cita awal UKSW didirikan! Mereka membela UKSW dari ancaman penyimpangan yang dilakukan pejabat di lembaga kepimpinanan PT itu.

Hari ini, semua berita tentang “penyelesaian konflik lama UKSW” menegaskan kembali pihak YPTKSW masih belum berubah dari sikap dan pemahamannya 30 hingga 20 tahun yang lalu. Yang berubah hanya tampilannya dari sikap memusuhi menjadi lebih bersahabat. Namun, persoalan struktural institusional yang menjadi dasar konflik besar itu masih saja tetap direduksi menjadi persoalan pribadi individu.

Yang mungkin sudah berubah adalah Arief Budiman, karena menderita parkinson dan daya ingatnya berkurang. Kita doakan semoga beliau tetap atau lebih sehat. Kita doakan pula UKSW agar suatu hari menjadi sadar, dan sembuh dari sakit yang lebih serius ketimbang parkinson.

(Ariel Heryanto)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar