Jumat, 13 Februari 2015

Spiral Kekerasan

Kekerasan bisa dimulai dengan memainkan perasaan diri menjadi korban. "Playing the victim game". Merasa diri menjadi korban, kita merasa memiliki alasan moral utk membalas, menghukum dan jika perlu membunuh. Dari sinilah kekerasan bermula dan potensial menjadi besar. Semakin besar. Hati-hati dengan klaim "Ahmadiyah atau Syiah menista kita kaum Muslim." Padahal yg terjadi cuma perbedaan interpretasi terhadap Islam. Orang bisa menipu diri menjadi korban hanya untuk memuaskan hasrat kekerasan terhadap kelompok lain. (Farid Gaban)

Rabu, 11 Februari 2015

Bukan Nasionalisme

Gak ada banjir di Singapura. Kotanya bersih. Transportasi publiknya bagus dan keren. Tidak ada debat berkepanjangan KPK-Polri. Tapi, kok, saya merasa lebih suka hidup di Indonesia, ya... Semua yg serba tertib dan predictable itu pasti menjemukan. Indonesia itu mengasyikkan mungkin justru karena kekonyolan, unpredictability dan ketidaksempurnaannya. ‪#‎ah‬ (Farid Gaban)

Sepur Kluthuk

Menemukan video jadul, zaman Belanda, yg merekam perjalanan kereta api tenaga uap dari Wonosobo (770 m dpl) ke Purwokerto. Jalur itu sudah mati sekarang; tapi saya pernah naik ketika SMP. Satu-satunya penjelasan kenapa Belanda dulu membangun jalur sepur itu adalah potensi pertanian, perkebunan dan kehutanan Wonosobo (yg sekarang harus dibangkitkan lagi). (Farid Gaban)

Penggembira

Seorang mahasiswa Universitas Indonesia pekan lalu bercerita dia dan teman-temannya diundang untuk menjadi penggembira/penyorak dalam sebuah acara debat di TVOne. Tiap mahasiswa diberi uang saku Rp 50.000, tanpa perlu tahu apa yg diperdebatkan. Satu kelompok, 40 orang, Rp 2 juta. "Uang itu dipakai utk kas kegiatan mahasiswa," katanya. Bagaimana tarif di televisi lain? ‪#‎eh‬ (Farid Gaban)

Selasa, 10 Februari 2015

Mubyarto

Mubyarto mendapatkan gelar doktor dari Iowa State University pada usia 27 tahun (1965). Sumitro Djojohadikusumo mendapatkan gelar doktor dari Netherlands School of Economics pada usia 26 tahun (1943). Pada Agustus 1968, Sumitro, yang berusia 21 tahun lebih tua, meminta Mubyarto untuk menjadi asistennya. Waktu itu Sumitro adalah Menteri Perdagangan RI. Harian Kompas edisi 6 Agustus 1968 memuat berita penunjukkan tersebut. Selama menjadi asisten Pak Mitro, Pak Muby berhasil menulis dua buah buku yang juga menjadi semacam laporan dalam kapasitasnya sebagai asisten menteri. #menyisiriarsip (Tarli Nugroho)

Karangan-Karangan Hatta

Kurang lebih satu dekade silam, ada seorang menteri ekonomi, yang juga merupakan guru besar ekonomi di sebuah perguruan tinggi terkemuka, bercermah dalam sebuah forum. Dia bercerita kalau dirinya baru saja ketemu karangan-karangan Hatta dalam sebuah lawatan ke luar negeri. Pemikiran Hatta, simpulnya, sungguh menarik dan masih sangat relevan dengan kondisi saat ini. Sayangnya, ujar sang menteri, buku-buku karangan Hatta hanya bisa dijumpai di perpustakaan luar negeri dan sebagian besar berbahasa Belanda.

Kota Beton

Banjir? Warga bersalah karena membuang sampah sembarangan? Tentu. Bikin rumah di bantara sungai bikin banjir? Mungkin. Tapi, bagaimana dengan mereka yang membangun mall-mall besar, gedung perkantoran beton, dan jalan tol lebar-lebar atas nama kemajuan sebuah kota? (Farid Gaban)

Banjir

Anak SD juga akan tahu tentang penyebab utama banjir Jakarta kalau bikin eksperimen sederhana seperti di bawah ini. Kota dg lahan terbuka hijau 25% saja masih menyisakan 50% air hujan yg tak diserap tanah; melainkan menjadi sungai buatan. Apalagi ruang terbuka hijau Jakarta yang kurang dari 10%. (Farid Gaban)

Relawan Orde Baru

Pesan dari para "relawan Orde Baru" pada Soeharto hampir setengah abad yang silam. Kok kayaknya saya pernah dengar ya pesan-pesan model begini?! *eh (Kompas, 14 Juli 1966)

SINAR

Pada kuartal terakhir 1993 majalah ini hadir menyapa pembaca. Ini majalah berita yang berbeda dengan Tempo dan Editor, karena diterbitkan untuk segmen pembaca Tionghoa. Tak heran jika pilihan berita, ulasan profil, serta sebagian besar isinya disesuaikan dengan segmen pasar yang disasar. Jika tak salah mencatat, majalah ini merupakan produk debut Sudwikatmono dan Grup Subentra dalam bisnis media. Selain majalah ini, Sudwikatmono juga menjadi pemodal beberapa media lain pada masa itu, yang membuat paruh awal 1990-an menjadi tahun-tahun yang semarak oleh kelahiran media-media baru. Sayang, meski sempat terbit dengan kertas HVS dan halaman full colour, majalah ini hanya berumur pendek saja. Dalam ingatan saya, sejak krisis 1997, majalah ini tak lagi saya temui di kios koran langganan. Majalah Sinar pun berhenti bersinar. (Tarli Nugroho)