Sabtu, 21 Mei 2016

Kasus Pemerkosaan

Kekerasan Budaya dan Politik Orde Baru

Bersama santri-santri pesantren Al-Falah Silo Jember, difasilitasi oleh Kiai Muhammad Ma'mun, kami akan mengadakan diskusi santai kebangsaan tentang "Kekerasan Budaya dan Politik Orde Baru (Orba)", Selasa siang lusa.

Pogge

Senin, 16 Mei 2016

Diaspora

Para pekerja Indonesia di luar negeri telah bekerja keras, bahkan sering harus menjudikan nyawa. Namun mengapa sumbangan "kaum diaspora" Indonesia pada ekonomi nasional relatif kecil dibanding negeri lain? [Sumber data: Human Development Report, UNDP, 2015]

Minggu, 15 Mei 2016

Maaf

Marcus Christenson membuat permohonan maaf yang panjang berkait kesalahannya dulu menulis soal pilihan manajemen Leicester City terhadap Ranieri. Ia membedah tulisannya sendiri, mengomentarinya, menyesalinya, dan menunjukkan di bagian-bagian mana ia salah. Di bagian akhir tulisan, ia bahkan mendeklarasikan bahwa ia kini bukan lagi seorang pakar untuk soal Ranieri.

Flamboyan

"Tapi jika mau lebih cermat sedikit, gema ke-Indonesia-an film ini juga bisa didapatkan pada sisi lain. Coba perhatikan sosok Jimmy Mistry, editor Glitz, koran yang kontra modal. Ia kekiri-kirian, ada di pihak buruh dan aktivis komunis, namun pada saat yang sama sangat mudah membedakannya dengan pemimpin buruh dan aktivis komunis di film ini, misalnya Kamerad Dhespande. Jimmy berpakaian rapi dan dandi, sama flamboyannya dengan musuhnya, Khambatta yang pro-modal. Ia ajeg mengunjungi bar jazz, kedapatan main billiard, dan senang mani-padi, meski di banyak kesempatan ia juga muncul di panggung demonstrasi para buruh. Dan, yang terpenting untuk alur film ini, ia juga senang dengan perempuan cantik, dan tak sungkan memperalatnya untuk tujuan-tujuan taktik-politik. Mengabaikan satu-dua hal pokok yang tak sesuai, lalu iseng-iseng bermain anagram dan inisial, dan membayangkan bahwa Anurag Kashyap mungkin sempat membaca studi-studi tentang industri cetak di Indonesia (Wars Within-nya Steele, misalnya), saya tampaknya menemukan sosok mirip Jimmy Mistry ini di sini, di Indonesia. Sambil senyum-senyum saya berandai-andai, kalau di Indonesia, JM si editor ini tampaknya lebih condong jadi PSI dibanding PKI."

Kamis, 12 Mei 2016

Standar Ganda

Yang Islamis seneng kalau tentara/polisi menindas kaum kiri dan liberal. Yang liberal dan kiri sorak-sorai ketika tentara/polisi menindas Islamis. Siapa diuntungkan dari standar ganda macam itu? Tentara/polisi! (Farid Gaban)

Digoel & PKI

Boven Digoel, Papua, adalah penjara alam yang brutal ciptaan Pemerintah Hindia Belanda. Ke situlah ribuan pejuang kemerdekaan diasingkan. Sebagian besar mereka aktivis PKI yg berontak melawan Belanda pada 1927. Tapi, Digoel juga penjara bagi aktivis Syarikat Islam dan kaum nasionalis seperti Bung Hatta. Komunis atau bukan, mereka yg terbuang dan tewas di Digoel adalah "pahlawan perintis kemerdekaan". Tapi, sejarah mereka dilupakan karena fobia-komunis yg berlebihan. (Farid Gaban)

Rabu, 11 Mei 2016

Bimasakti

Kapital

Komunisme memang sejatinya anti-kapitalisme. Tapi apakah dengan demikian, untuk konteks Indonesia, status kapital dari negara komunis jadi berbeda dengan status kapital dari negara kapitalis, sama seperti halnya dengan anggapan "syar'i" yang melekat atas setiap kapital yang datang dari Timur Tengah?! He he he.