Minggu, 09 November 2014

Negara Blusukan

Benarkah negara hadir dalam blusukan? Ah, belum tentu. Negara itu abstrak, kongkretnya di figur aparat negara. Jika yang dimaksud adalah sang aparat senang kelayapan doyan keluyuran, lalu semata-mata dimaknai negara sedang hadir di sebuah lokasi blusukan, ini tentu berlebihan. Mengada-ada. Sebab, aparat juga manusia, tentu butuh relaks, jauh dari kepengapan ruang kantornya.

Lebih gawat lagi, kalau blusukan itu ternyata cuma modus menghindari tugas-tugas kantor. Begitu melihat tumpukan surat yang mesti ditandatangani atau dirapatkan, mendadak pening kepala. Obatnya, ya blusukan itu. Blusukan ke sana, blusukan ke sini. Bawa wartawan, dikuntit reporter, ditulis redaktur spesialis drama blusukan. Apalagi kalau blusukan plus memanjat pagar. Hasilnya, kliping koran/rekaman video blusukan. Jangan-jangan, kliping/rekaman ini yang dibawa ke rapat kabinet berikutnya. Lalu dibahas, tips dan trik untuk sukses blusukan.

Negara tentu terasa hadir ketika kebijakan/program benar-benar pro-kebutuhan rakyat. Bukan kebutuhan mafioso atau memenuhi keinginan balas budi. Layak dikhawatirkan, blusukan sensasional dipotret media hanyalah trik menutupi kongkalikong aparat negara dengan mafioso. Kepada publik disuguhkan drama melow blusukan penuh sensasi. Sebaliknya, di balik layar terindikasi negara jadi ATM mafioso. Aduh.

(Surabaya Book-Review)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar