Rabu, 30 September 2015

Daseng Panglima

Sejak 2003, jumlah nelayan di pesisir Boulevard, kota Manado, telah menyusut hingga 70 persen. Demikian klaim Asosiasi Nelayan Tradisional (Antra) yang bermarkas di sela hamparan areal reklamasi sepanjang lima kilometer (tanda panah).


Tempat ini disebut Daseng Panglima. "Daseng" adalah istilah lokal untuk shelter nelayan. Adapun "Panglima" menunjukkan nama lokasi di Kelurahan Sario Tumpaan.

Di kelurahan ini, kini hanya tersisa 155 nelayan dan 115 perahu jenis ketinting. Ukuran perahu tak bisa lebih besar lagi karena nelayan tak memiliki tempat berlabuh, sebab sepanjang pesisir ini hanya ada dinding batu reklamasi.

Makin besar perahu, makin sulit mengangkatnya ke daratan berbatu bila ada gelombang tinggi. Sebagian perahu telah hancur akibat dihantam gelombang ke dinding batu.

Dengan terbatasnya ukuran perahu, secara ekonomi, takdir struktur sosial nelayan Teluk Manado telah ditentukan: "nelayan gurem".

Mereka hanya perlu lima liter bensin dengan jangkauan jelajah hanya sekitar empat mil laut.

"Sebagian besar sudah alih profesi menjadi ojek, sopir taksi, tukang parkir, satpam, atau membuka warung," terang Poni (52), nelayan senior di Daseng Panglima.

Hari itu Poni tak dapat seekor pun ikan tude. Mereka berharap dari pembagian kapal besar penangkap cakalang dengan membantu menarik jaring cincin.

"Ada tradisi untuk memberikan ikan barang satu dua ekor pada nelayan kecil, bila kapal besar dapat ikan banyak. Tapi kami gak enak kalau tidak membantu narik jaringnya," sambung Poni.

Tapi kapal cakalang itu pun sedang nahas. Mereka hanya menangkap 10 ekor.

"Kami harus tahu diri. Kalau mereka hanya dapat 10 ekor, sedangkan awak kapalnya saja 20 orang, ya apa yang mau dibagi untuk kami," tandasnya sambil memacu perahunya menjauhi kapal cakalang.

Menurut Poni, reklamasi telah melenyapkan ikan-ikan dasar atau ikan karang yang menjadi target mereka. Beruntung, kini cakalang dan tuna ekor kuning (yellow fin) mulai masuk Teluk Manado, menyusul pemberantasan illegal fishing dan larangan transhipment.

"Dulu cari cakalang atau tuna harus jauh ke tengah laut. Mereka sekarang sudah masuk Teluk Manado. Sejak tahun 2015 ini lah kira-kira."

Berkah lain, dengan ramainya cakalang dan tuna, pesanan jaring cincin ke Poni makin ramai. Ia dan kelompok nelayan di Daseng Panglima, belakangan memang lebih menggantungkan hidup dari usaha pembuatan jaring untuk nelayan modal besar.

Satu unit jaring ukuran 300 x 80 meter ia patok 170 juta rupiah, yang membutuhkan waktu tiga minggu dengan tujuh tenaga kerja.

Tapi pesanan ini biasanya dalam setahun rata-rata hanya tiga kali. Poni dan kawan-kawannya kini mendirikan koperasi serba usaha "Antra" yang berdiri Maret 2015.

Sejak 1998, kota Manado telah mereklamasi areal pesisirnya untuk ekspansi properti melalui sembilan izin dan luasan mencapai 700 hektare yang memukul mundur nelayan tradisional dari sumber nafkahnya.

Ekspedisi Indonesia Biru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar