Kamis, 01 Oktober 2015

Hariyono

Don Setyo masih menunggu saya di rumahnya yang terletak di wilayah Sidoarjo. Beberapa kali dia menelepon, memastikan saya dan Rus tidak tersesat.

Kami berdua tiba di sana pukul dua dini hari lebih sekian belas menit. Sebelum menyerahkan dokumen penting bagi saya tentang kasus Salim Kancil, dia masih sempat mengeluarkan guyonan, karena tahu kami cukup kelelahan setelah naik mobil selama hampir 10 jam.

"Aku sudah pernah melihat kendaraan-kendaraan paling mengerikan. Tapi tahu gak kendaraan paling menakutkan yang pernah kuhadapi?"

Aku menggelengkan kepala sambil menyeruput kopi panas.

"Truk marinir dengan tulisan: b e l a j a r."

Aku tertawa kecil. Rus merebahkan tubuh tambunnya di depan televisi. Tak lama kemudian suara ngorok terdengar meringkik dari kerongkongannya.

Don bukan wartawan sembarangan. Dia sudah berkali-kali meliput wilayah berbahaya seperti Afganistan, kamp-kamp pelatihan teroris, menginvestigasi beberapa kasus kejahatan yang pelik. Kini laki-laki berusia 35 tahun itu jadi redaktur yang punya kendali di salah satu wilayah terbesar di daerah Timur, daerah Salim Kancil dibantai.

Siang ketika pembantaian itu terjadi, dia langsung mempersiapkan sebuah laporan panjang untuk korannya. Tapi masih khusus di daerah Timur. Dia mengirim salah satu wartawannya datang ke Lumajang, berkoordinasi dengan satu wartawan yang bertugas di wilayah Jember, seorang wartawan di daerah Malang--tempat Tosan dirawat secara intensif--dan tentu saja mengkoordinir satu wartawan di Jakarta untuk memonitor tanggapan dari pemerintah pusat.

Lima orang bekerjasama dan sehari kemudian, serial liputan tentang Salim Kancil masuk di halaman pertama salah satu koran terbesar di Indonesia itu. Maka tidak heran jika semua dokumen yang saya butuhkan, dia punya. Dia juga mempersilakan saya bekerja bersama para reporter di wilayah-wilayah tersebut. "Semua saksi kunci, orang-orang penting, kamu bisa akses." ujar orang yang sebentar lagi salah satu karya jurnalistiknya akan meluncur ke publik dalam bentuk buku, sebuah liputan yang ringan dan menarik soal keberagaman Islam di daerah Maluku dan Papua.

Aku mulai membaca dokumen yang paling kucari, tentang persoalan ekonomi. Di desa Selok Awar-awar, harga 7 meter kubik pasir besi yang biasa diangkut dalam satu truk sebesar 350.000 rupiah. Uang pungli desa sebesar 180.000 rupiah. Satu truk pasir itu ketika kemudian dijual oleh sebuah 'stock pile' di daerah Lumajang sebesar 5,5 juta rupiah. Jarak dari 350 ribu plus 180 ribu hingga kemudian menjadi 5,5 juta adalah uang besar. Dan setiap uang sebesar itu, pasti akan menetes di mana-mana.

Di desa Salin Kancil, truk-truk yang mengambil pasir besi dalam satu hari antara 250 sampai dengan 300 truk. Jadi mudah dihitung berapa besar uang yang dikelola oleh Hariyono, Si Kepala Desa sekaligus satu-satunya pemilik tambang di desa tersebut.

Hariyono memang orang kampung. Tapi dia tahu persis bagaimana menjalankan kekuasaannya. Dia membentuk tim centeng yang disebut sebagai 'tim 12'. Tentu saja isinya 12 orang preman desa yang membentengi Hariyono. Keduabelas orang itulah yang mengatur puluhan orang lain di wilayah kerja penambangan. Sembilan dari duabelas anggota kelompok centeng tersebut terbukti ikut membantai Salim Kancil hingga tewas, dan menyiksa Tosan.

Hariyono juga dikenal dekat dengan aparat kepolisian. Tidak ada yang aneh dengan itu. Maka agak masuk akal ketika beberapa hari sebelumnya Salim melapor ke kepolisian Lumajang bahwa dirinya diancam hendak dibunuh, tak ada respons apapun. Kapolda Jatim pun secara tegas menyatakan ada unsur kelalaian dari kepolisian Lumajang.

Ada satu persoalan yang mungkin bakal cenderung diabaikan. Di Lumajang ada 100 lebih kasus penambangan seperti yang terjadi di desa Salim. Konflik antara penambang dan penduduk yang dirugikan sudah lama terjadi. Sesungguhnya semua bisa meletus kapanpun juga. Di seluruh Jawa, ada ribuan kasus seperti itu dalam kondisi yang sama. Antarwarga yang berbeda kepentingan sudah lama menyimpan bara tegang. Satu percik kecil, masyarakat bisa terbakar.

Tidak semua tambang merupakan tambang korporat besar. Di Lumajang misalnya, hanya ada dua perusahaan besar. Sebagian tambang-tambang lain dimiliki oleh pengusaha-pengusaha lokal. Bahkan pengusaha plus penguasa setingkat Hariyono. Kecil kelasnya tapi besar duitnya.

Di mana-mana kemudian yang terjadi bakal seperti ini: orang kecil bertikai dengan orang kecil. Saling bantai.

Sementara yang besar di mana? Mungkin sudah sibuk gundukan pasir mana yang hendak dikeruk, dan gunung apa yang hendak diratakan.

"Kamu tahu kan kalau Tosab sudah siuman?" tanya Don sambil mulai rebahan.

Aku menggelengkan kepala.

"Kamu tahu kan kasus ini kemudian membuat tuntutan penutupan tambang di daerah Timur ini makin menggema dan makin berani?"

Aku kembali menggelengkan kepala.

"Keberanian itu telah menular..." ucapnya sambil melepas kacamata. Tak lama kemudian dia tertidur.

Aku terpekur. Rasa lelah malah lenyap. Tapi kepalaku pusing. Mungkin masuk angin.

(Puthut E.A.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar