Sabtu, 07 November 2015

Anti-Bank

Bagi nasabah bank syariah dan mengira akan masuk surga, think again. ‪#‎eh‬

Ini bukan rumah adat biasa atau lumbung padi. Ini adalah pusat gerakan keuangan alternatif masyarakat Dayak di pedalaman Ketapang, Kalimantan Barat. Inilah Credit Union Gemalaq Kemisiq, salah satu dari 21 Credit Union yang ada di Kalimantan Barat.


Apa yang membedakan dengan CU-CU lain yang bila digabung asetnya mencapai Rp8 triliun dan anggotanya tembus satu juta orang, atau seperlima dari penduduk Kalbar?


CU ini memberikan semua alasan mengapa anggotanya tidak perlu berurusan dengan sistem perbankan umum.

Pertama, untuk menjadi anggota atau penabung, Anda tidak perlu memiliki uang tunai dahulu. Masyarakat bisa meminjam uang di CU dan lalu memasukkannya sebagai tabungan. Bunga pinjamannya lebih kecil dari bunga tabungan.

"Orang miskin kalau diajak menabung tunai, mana pernah bisa," ujar Muliadi Bidau, yang sudah 16 tahun menjadi aktivis CU.


Jadi dengan sadar, CU ini memilih "negative spread" di saat prinsip bisnis bank justru mengambil untung dari selisih bunga pinjaman dan bunga tabungan.

Lalu dari mana CU menutup selisih bunga pinjaman yang lebih kecil dari bunga tabungan?

"Manajemen waktu dan solidaritas anggota. Karena itu, kami menanamkan nilai bahwa uang bukan tujuan dalam ber-CU."

Kalau bukan tujuan, lantas apa?

Kedua, tidak semua pinjaman dimintakan jaminan atau kolateral. Bila rekam jejak Anda sebagai anggota cukup baik, dan jumlah pinjaman tidak terlalu jauh selisihnya dengan tabungan, Anda bisa meminjam tanpa menjaminkan aset.

"Ada anggota yang karena pinjamannya besar (Rp 200 juta), terpaksa kami minta jaminan (rumah) untuk melindungi tabungan anggota yang lain. Lalu kreditnya macet karena usahanya menurun. Padahal selama ini ia dikenal bereputasi baik. Lalu terpaksa kami sita, tapi karena harga pasar rumahnya lebih tinggi dari pinjaman, kami kembalikan sisanya (Rp60 juta). Dengan itu, dia bisa membuka usaha baru, dan sekarang sudah meminjam lagi, dan kami beri," rinci Muliadi.


Bagi CU ini, sambung Muliadi lagi, "semata-mata menyita aset tanpa memberi kesempatan kedua, justru membunuh ekonomi anggota. Dan ini bertentangan dengan filosofi dan semangat CU. Bukankah kita hadir untuk menolong? Kalau kita sita rumah atau lahannya, lalu bagaimana mereka bangkit?"


Ketiga, meski butuh perputaran aset kredit, CU ini membuat daftar usaha yang tak layak dibantu (negative list), dan itu tertulis dalam AD/ART CU Gemalaq Kemisiq.

Jenis-jenis usaha yang masuk negative list adalah pertambangan, kelapa sawit, tempat hiburan, dan usaha-usaha lain yang melanggar hak asasi manusia.

"Usaha yang kita bantu adalah usaha yang mendukung pelestarian alam. Karet kami bantu karena tanaman ini bisa tumpang sari (tanaman lain bisa ikut tumbuh). Sawit tidak. Dia cenderung merusak. Begitu juga dengan tempat hiburan, karena dari sini lah, lewat minuman keras, masyarakat biasanya berubah gaya hidupnya, dan untuk mengongkosi itu, mereka sering melepas tanah ke perusahaan. Dan ini pemiskinan," tandas Muliadi yang asli Dayak.


Dengan prinsip ini, CU Gemalaq Kemisiq yang berdiri sejak 1999, justru memiliki 15.000 anggota dengan sembilan cabang (Tempat Pelayanan) dan 50 orang aktivis.

"Staf kami bukan pekerja sektor keuangan. Mereka adalah aktivis gerakan sosial," kata John Bamba, tokoh yang menginisiasi CU ini dengan filosofi kebutuhan dan siklus hidup petani.

Sistem dan manajemen keuangan dipadu dengan "indoktrinasi" nilai-nilai solidaritas sosial dan ketahanan ekonomi berbasis sumber daya alam terhadap anggota.

Bila ada anggota yang tidak aktif, CU mengundang dan memotivasi mereka. Hal yang tidak akan pernah dilakukan bank.

Dan di atas itu semua, hubungan CU dan anggotanya bukan hubungan teller dan nasabah, melainkan hubungan kepemilikan. Semua sisa hasil usaha, pada akhirnya akan dikembalikan kepada anggota, dan mereka lah pemegang kedaulatan tertinggi lewat forum Rapat Anggota Tahunan.

Inilah sistem keuangan alternatif yang hendak mengembalikan hakikat Credit Union di Kalimantan Barat, yang sebagian besar dianggap mulai terjebak menjadi bank-bank baru.

Dan gerakan ini dimulai dari pedalaman.

Ekspedisi Indonesia Biru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar