Kamis, 22 Oktober 2015

Benci

Kau tahu, ekspresi cinta tertinggi itu adalah kebencian. Jadi, berhati-hatilah memilih orang yang kau benci. ‪#‎ngapoesi‬ (Tarli Nugroho)

Layak Diteliti

Mengapa terbitan majalah mahasiswa seperti Lentera (3/2015) bisa hadir dari sebuah universitas kecil yang tidak masuk peringkat atas di tingkat nasional apalagi antar-bangsa? Lokasinya jauh lagi dari ibukota yang menjadi pusat dan kebebasan lalu-lintas informasi.

Dilarang Bernapas

Di Indonesia:
* dilarang pakai kaos dengan gambar palu-arit
* dilarang jadi ateis
* kalau miskin dilarang sakit
* tahun 2015: dilarang bernapas

Hari Santri

Salah satu tujuan inti hari santri nasional adalah agar kontribusi kaum santri dalam perjuangan menjadi Indonesia lebih diakui.

Oleh-oleh dari Amsterdam, 1 Oktober 2015


Setiap ngajar human rights di kelas, dan tjoba membitjarakan topik ini, hampir seluruh mahasiswa akan terbelalak bingung....
Dikirim oleh Ariel Heryanto pada 22 Oktober 2015

Pengkritik

Kepada seorang alim, saya pernah bertanya, "Gus, bagaimana Anda menghadapi para pengritik?"

Haters

Semalam saya diajak makan malam oleh seorang sahabat saya. Sembari makan, dia tak habis pikir kenapa saya bisa begitu dingin menghadapi para haters Mojok.

Nawa Cita, Sampai di Mana?

Sembilan agenda prioritas pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, alias Nawa Cita, di atas kertas sejak awal sebenarnya sulit untuk bisa disebut sebagai agenda, karena tidak punya target dan indikator capaian yang jelas. Ia lebih merupakan daftar keinginan masa kampanye semata. Apalagi poin-poin yang tersusun di dalamnya juga tidak menggambarkan gagasan yang sistematis, yang jelas mana ujung dan mana pangkalnya.

Bundaran Besar

Bundaran Besar, pusat kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 21 Oktober 2015, 07.15 WIB.
(Dandhy  Dwi Laksono)

Sawit

Dulu ada kampanye besar-besaran yang menisbikan kopra sebagai bahan minyak kelapa. Minyak kelapa bukan hanya dianggap tidak sehat, tapi juga diiklankan sebagai minyak yang berbahaya. Kampanye itu efektif membuat ibu-ibu meninggalkan minyak kelapa, dan industri kopra yang diusahakan banyak petani di banyak pesisir, pada gilirannya hancur. Minyak kelapa tinggal kenangan, tapi belakangan banyak orang tahu, kampanye itu hanya bagian dari proyek Bank Dunia untuk mengubah berhektar-hektar hutan menjadi ladang tanaman perkebunan kelapa sawit menyusul program transmigrasi.