Kamis, 22 Oktober 2015

Sawit

Dulu ada kampanye besar-besaran yang menisbikan kopra sebagai bahan minyak kelapa. Minyak kelapa bukan hanya dianggap tidak sehat, tapi juga diiklankan sebagai minyak yang berbahaya. Kampanye itu efektif membuat ibu-ibu meninggalkan minyak kelapa, dan industri kopra yang diusahakan banyak petani di banyak pesisir, pada gilirannya hancur. Minyak kelapa tinggal kenangan, tapi belakangan banyak orang tahu, kampanye itu hanya bagian dari proyek Bank Dunia untuk mengubah berhektar-hektar hutan menjadi ladang tanaman perkebunan kelapa sawit menyusul program transmigrasi.

Lalu setelah memangsa berjuta-juta hektar hutan tropis di Brazil, Malaysia, dan Indonesia; proyek itu diteruskan oleh banyak perusahaan swasta. Di Indonesia, jutaan hektar hutan terutama di Kalimantan dan Sumatera dikapling-kapling oleh para pemilik modal seolah warisan nenek moyang mereka, dan disulap menjadi perkebunan sawit. Sawit dianggap primadoda dan bisa menggerakkan roda industri meski kemudian menyisakan berjuta hektar hutan tropis yang gundul.

Sawit adalah endemik dari tanah Afrika. Dikenal dalam bahasa Latin sebagai elaeis guinensis, sawit menjadi salah satu bahan baku berbagai produk. Perusahaan-perusahaan raksasa dunia, seperti Procter & Gambler, Unilever, Kraft, Nestle, Johnson & Johnson membutuhkan sawit untuk membuat sampo, sabun, kuteks, lipstik dan sebagainya.

Dalam sejarah perkebunan di Indonesia, sawit mengisahkan epos tersendiri. Jejaknya menjangkau dan mempengaruhi berbagai sendi kehidupan masyarakat secara luas: ekonomi, sosial, budaya, politik dan lingkungan. Sebagai eksportir terbesar di dunia [19,5 juta ton per tahun berdasarkan data 2010], posisi sawit niscaya amat penting bagi Indonesia, dan juga dunia. Problemnya adalah karakter sawit.

Sebagai tanaman monokultur, sawit menuntut lahan yang masif dan tamak terhadap air. Dan berbeda dengan hutan tropis yang memberi ruang pada keragaman makhluk untuk hidup berdampingan di ekosistem yang sama, di areal perkebunan sawit demi hasil panen maksimal, tak boleh ada makhluk lain. Pembukaan lahan hutan untuk perkebunan sawit, karena itu tak hanya dilakukan dengan menebang pohon-pohon atau dengan membakarnya, tapi juga menggusur sumber makanan dan habitat hidup berbagai binatang. Beberapa perusahaan bahkan melakukan jurus ekstrem: “memurnikan” kebun sawit dengan memburu monyet, gajah, ular dan orang utan [lihat “Raja Limbung, Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia”].

Itu belum termasuk konflik agraria, perebutan lahan hutan antara penduduk lokal dengan perusahaan-perusahaan perkebunan sawit. Konflik kepemilikan lahan di Register 45, di Mesuji, Lampung yang memakan korban jiwa sekitar lima tahun yang lalu, adalah satu contoh keganasan ekpansi perusahaan perkebunan sawit. Di Kalimantan Timur, orang utan dibantai seolah hewan itu tak perlu dan tak penting ada. Di Badau Kalimantan Barat, bapak memusuhi anak, anak membunuh bapak gara-gara berbeda sikap soal hutan dan perkebunan sawit.

Bertahun-tahun kemudian, hutan-hutan di Kalimantan dan Sumatera sengaja dibakar untuk perluasan kebun sawit. Menjadi masalah setiap tahun, dan seolah sengaja dibiarkan. Tahun ini kebakaran hutan untuk perluasan kebun sawit itu adalah yang terparah dan terburuk: berlangsung hampir setahun dan meliputi areal yang lebih masif. Orang-orang di Sumatera dan Kalimantan kemudian dipaksa mengisap asap sehingga menyebabkan beberapa orang terkena infeksi akut pada saluran pernapasan, dan sebagian mati karena paru-paru yang penuh asap.

Di mana pemerintah?

Presiden Jokowi sudah masuk ke hutan-hutan. Membuat kanal di lahan gambut, mengajak tentara memadamkan kebakaran hutan dan berjanji akan menuntut perusahaan-perusahaan sawit yang membakar hutan. Menurut Pak Presiden semua itu akan bisa mengatasi kebakaran, tapi seperti biasa, semuanya adalah business as usual. Dan belum lagi dituntut, terdengar kabar, polisi sudah menganulir penyidikan terhadap salah satu perusahaan pembakar hutan.

Di tengah itu semua, dan seluruh nasib buruk yang menimpa jutaan orang di Sumatera dan Kalimantan, Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koordintaor Politik, Hukum dan Kemanan mengancam akan membuldozer kementerian yang menghambat industri sawit. Dalam pandangan Luhut, sawit adalah komoditas unggulan strategis, dan bisa menggerakkan pembangunan di daerah. Menjadi salah satu bahan industri energi zaman baru, biofel dan berdampak bagus bagi negara.

Entah, hendak di bawah ke mana negara ini, bila semua kebaikan dan harapan ternyata hanya ada dan muncul pada saat kampanye pemilu, tapi setelahnya, hanya kebohongan demi kebohongan karena yang sesungguhnya berkuasa adalah penguasa modal dan senjata. Bukan presiden yang dielu-elukan dan dipilih oleh banyak orang, termasuk oleh jutaan orang di Sumatera dan Kalimantan yang dalam hari-hari terakhir ini sudah tak bisa lagi melihat matahari sebab langit di atas mereka pekat oleh asap berwarna jingga.

(Rusdi Mathari)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar