Rabu, 14 Oktober 2015

Motinggo

Terakhir membaca Motinggo Busye adalah tujuh belas tahun lalu. Judul novelnya masih saya ingat persis, "Puteri Seorang Jenderal". Dua malam saya menyelesaikan novel itu yang kemudian diakhiri oleh sudut mata yang berkaca-kaca.

Terus terang, saya hanya pernah membaca novel-novel pop Motinggo, dan tak pernah menyelesaikan satupun novel seriusnya. Novel pop Motinggo saya baca tak lama sesudah berkenalan dengan karya-karya Fredy Siswanto saat kelas empat sekolah dasar dulu, yang berturut-turut kemudian diikuti oleh karya-karya Marga Tesha dan Mira W. Saya masih sempat membaca beberapa karya Mira W. hingga tahun-tahun pertama kuliah di Yogya.

Kemarin petang, ketika mampir ke Blok M Square, tiba-tiba saya jadi teringat kembali pada karya-karya Motinggo. Syukurlah, cukup banyak stok karya Motinggo di sana. Sesudah tujuh belas tahun, akhirnya "Debu-debu Kalbu" adalah judul yang ingin saya baca.


Saya masih menyukai cara bercerita Motinggo, terutama sebuah kutipan yang terselip di novel ini: "Siapa yang pandai menyimpan dan menanggungkan duka, hatinya pasti sangat mulia."

Begitukah, Tuan Motinggo?

(Tarli Nugroho)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar