Selasa, 13 Oktober 2015

Transmigran, Timun, dan Batubara

Nyoman Derman (60) bekas tahanan. Tahun 1980, pemerintah memindahkan Nyoman dari kampung halamannya di Negara (Bali) ke Kalimantan Timur untuk mengikuti program transmigrasi.

Bersama 300-an kepala keluarga, Nyoman pun membuka hutan dan mencetak sawah. Mereka hidup beranak-pinak di sana sembari mempertahankan agama dan adat Hindu-Bali. Kampung baru itu pun diberi nama Kerta Buwana (alam semesta yang makmur). Letaknya di Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Namun memasuki era 1990-an, perusahaan tambang batubara mulai datang ke kampungnya. Satu per satu sawah jatuh ke tangan pengusaha. Tapi Nyoman bertahan dengan dua hektare hasil program transmigrasi.

Hingga suatu hari, di akhir tahun 2005, perusahaan batubara membangun jalan akses pengangkutan yang merusak saluran airnya. Nyoman protes dengan menghalangi jalan kendaraan milik perusahaan. Aksinya dianggap menganggu operasional perusahaan tambang yang sah. Akibatnya, ia ditangkap dan dipenjara tiga bulan.

“Ayah saya buta hukum. Dia ditangkap langsung dimasukkan ke Lembaga Pemasyarakatan. Persidangannya belakangan,” tutur I Ketut Bagya (21), anak ketiga Nyoman yang kini mengambil kuliah hukum gara-gara kasus itu.

Kini, menurut Ketut, 70 persen sawah di Kerta Buwana telah dikonversi menjadi areal tambang.

Tahun 2006, saat istrinya meninggal ketika ia berada di tahanan, Nyoman akhirnya menjual dua hektare sawahnya, dan membeli lahan lain dengan luas hanya satu hektare.

“Dulu pemerintah yang menyuruh kami membuka sawah di sini. Setelah jadi dan hidup kami mulai baik, sekarang pemerintah yang mengambilnya untuk tambang,” tandasnya.

EKONOMI AGRESIF

Indonesia adalah negara dengan cadangan batubara yang tak lebih dari 3 persen cadangan dunia. Tapi merupakan eksportir terbesar dunia dengan produksi 400 juta ton per tahun, mengalahkan negara dengan cadangan besar seperti Cina, Amerika, atau Australia.

Tak heran bila PLN meramalkan, tahun 2039 Indonesia akan berubah menjadi importir batubara, karena PLTU masih dipertahankan sebagai sumber listrik utama.

Agresivitas batubara juga harus dibayar mahal. Karena tak henti membanjiri pasar dunia dengan berbagai jenis kualitas, sementara di sisi lain Cina mulai mengurangi ekspor, maka harga pun anjlok hingga 40 persen. Bandingkan dengan Australia yang membatasi ekspor hanya pada batu bara berkalori tinggi.

Akibatnya, dari 3.000 pemegang izin usaha pertambangan, saat ini hanya 500 perusahaan yang masih beroperasi, termasuk perusahaan di kampung Nyoman yang dimiliki asing.

Sedangkan perusahaan skala kecil, sudah lama tersungkur dan menyulut PHK hingga 5.000 karyawan serta meninggalkan lubang-lubang maut bekas galian tambang yang telah menenggelamkan setidaknya 14 bocah, hanya di Samarinda dan Kutai Kartanegara sejak 2011.

“Tetangga saya yang sudah menjual tanahnya, sekarang hidupnya susah. Beras saja harus beli. Padahal dulu tinggal ambil setelah panen,” kata Nyoman.


Nyoman dan Ketut kini mengolah satu hektare tanah yang sebagian ditanami padi dan timun. Pagi itu, Nyoman akan mendapat uang 1,2 juta rupiah dari pedagang yang memesan timun, sore sebelumnya. Per kilo timun dihargai 4.000 rupiah.

“Harga timun sedang bagus,” pungkas Nyoman tersenyum lebar.

Ekspedisi Indonesia Biru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar