Sabtu, 21 November 2015

Silampukau

Salah satu bukti kebesaran Tuhan adalah ketika saya sudah merasa capek bekerja, kangen anak-istri, tiba-tiba dijemput Rusli. Pengusaha besar yang sementara ini masih menjadi seorang sopir.

Selama hampir 10 jam perjalanan dari Surabaya-Yogya, selain dihibur dengan candaannya, dicegat polisi karena melanggar marka jalan, sampai harus mau muntah berkali-kali karena aroma kentutnya yang ngudubilah, saya sempat ditanya: "Mas, kamu suka grup musik apa?"

Sebagai orang yang rendah kasta dalam selera musik, saya tak menjawab. Kemudian Rusli memperdengarkan lagu-lagu 'The Panas Dalam' dan 'Saras Dewi' (semoga benar ini yang dimaksud).

Rusli berkojah banyak soal pengetahuannya yang adiluhung soal musik dan kenapa 'The Panas Dalam' melebihi Slank dan Dewa. Kenapa Saras Dewi jauh lebih berkelas dibanding Frau maupun Isyana Sarasvati. Sebagai orang yang merasa dangkal dalam pengetahuan musik, saya cuma bisa mengangguk tanpa pernah mengerti sesungguhnya apa yang dikojahkan oleh Rusli selama hampir 10 jam itu.

Pengetahuan sastrawinya itu pula yang tiba-tiba berani menyolek mahaguru Rusdi Mathari. "Cak Rusdi itu gimana sih, Mas? Perempuan itu berasal dari kata dasar 'empu' bukan 'puan'. Itu dari bahasa Sansekerta bukan dari bahasa Melayu. Mungkin dia perlu mendengarkan lagu-lagu Saras Dewi."

Saya cuma diam. Lalu mengambik keping DVD dan memencet tombol.

"Ini lagu siapa kok bagus, Mas?"

Silampukau.


Lalu dia putar berulang-ulang lagu itu sambil manggut-manggut. "Simpalakau ini hebat ya..."

Silampukau, jawab saya setengah mengoreksi.

Dia kemudian ngomong banyak soal lirik-lirik lagu. "Jadi Si Simpalakau ini meurut teoriku..."

Silampukau. Saya memotong pendek.

Dia diam. Lalu mulai berkisah tentang kisah asmara Edo Samadyo...

Saya hanya diam.

(Puthut E.A.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar