Selasa, 27 Oktober 2015

Balairung Membaca Zaman

CATATAN 17 TAHUN BALAIRUNG (1985-2002)

:: Oleh Tarli Nugroho

BALAIRUNG adalah penerbitan mahasiswa generasi ketiga di Universitas Gadjah Mada. Lahir dari Seminar Pers Mahasiswa UGM pada 29 Oktober 1985, BALAIRUNG memposisikan diri sebagai tempat mahasiswa mengasah pena dan melatih diri untuk kehidupan pasca-universiter.


“Mereka ingin membawa aroma orisinalitas dan kemurnian, entah diterima segera oleh orang lain atau tidak. Racikan filsafati sudah mereka kaji dengan daya yang maksimal. Lewat paradigma yang diangkat dari keprihatinan panjang yang begitu membosankan. Dari sini mereka berharap kearifan yang agresif,” demikian tulisan redaksi BALAIRUNG pada edisi ulang tahunnya yang pertama.

Inilah pijakan yang melandasi denyut perkembangan organisasi ini selanjutnya. Reposisinya menjadi jurnal mahasiswa, pada 9 Juli 2002, sebenarnya lebih untuk mengoptimalkan khitah-nya itu. Bahwa sudah sepatutnya, mahasiswa, sebagai komunitas intelektual, tak lagi melulu bergelut dengan jurnalisme semata. Melainkan mencoba menggali pemikiran/kajian yang lebih serius. Dan jurnal menjadi wadah sekaligus tantangan untuk mengasah kematangan. Bukan hanya kemampuan menulis, melainkan juga daya nalar dan intelektualitas.

>> Sejarah Awal BALAIRUNG

===============================
Bagaimana jika seekor burung tidak mau berkicau?
Nobunaga menjawab, "Bunuh burung itu!"
Hideyoshi menjawab,"Buat burung itu ingin berkicau!"
Ieyasu menjawab, "Tunggu!"
===============================

Setelah pembredelan Tabloid Gelora Mahasiwa pada 1979—karena kevokalannya terhadap pemerintah dan pihak rektorat—praktis UGM tak lagi memiliki penerbitan mahasiswa di tingkatan universitas. Pada masa itu, seiring kebijakan depolitisasi kampus, dunia kemahasiswaan pun menjadi kelabu. Berbagai saluran aktivitas dan berkreasi diberangus. Mahasiswa dilokalisir ke dalam ruang-ruang kuliah yang sempit, bungkuk bersama tumpukan buku-buku kuno perpustakaan.

Pada awal 1980-an, untuk memecah kebekuan, mahasiswa yang gelisah membentuk kelompok-kelompok diskusi. Ini merupakan bentuk penyikapan atas kesenyapan aktivitas gerakan di lingkungan kampus. Gencarnya depolitisasi dan developmentalisme meresahkan mereka. Dalam perkembangannya, pers kembali dilirik untuk dijadikan kendara memecah kebekuan.

Berawal dari seminar pers mahasiswa yang diselenggarakan oleh “Clapeyron”, majalah mahasiswa Teknik Sipil, Fakultas Teknik UGM, tanggal 29 Oktober 1985, sekelompok aktivis yang tak ingin hanya menunggu seperti Ieyasu mencoba menghidupkan kembali penerbitan mahasiswa tingkat universitas. Selain bertujuan untuk mewadahi aspirasi mahasiswa, juga untuk menyegarkan iklim dunia kemahasiswaan yang terasa kering sejak diberlakukannya NKK/BKK.

“Majalah BALAIRUNG kini hadir di tengah kita semua, mengisi dan berisi pikiran-pikiran kita, mahasiswa UGM. Penerbitan universiter UGM terbit, setelah semenjak 1979 tidak eksis.” Demikian sebagian pengantar redaksi pada edisi perdananya, yang terbit pada bulan Januari 1986. Di bagian penutup dituliskan, “Para koki BALAIRUNG tidak menjanjikan apa-apa untuk Indonesia. Kami akan mengarungi kenyataan dan cita-cita semampu kami. Justru seluruh mahasiswa UGM dituntut banyak berbuat. BALAIRUNG hanya menyediakan wahana bagi Anda sekalian—para pemikir muda—yang memilih jalan intelektual sebagai isian kekhalifahan. Seyogyanya kita berlomba untuk mengisi.”

Demikianlah. Sejarah penerbitan mahasiswa di UGM kembali berdetak. Benang demi benang dirajut, menjadi saksi atas tiap derap kejadian di sekitarnya. Seperti halnya Hideyoshi yang ingin membuat burung berkicau, BALAIRUNG pun dihadang banyak kendala. Benturan kerap terjadi dengan pihak-pihak yang bersikap sebagai Nobunaga. Ini misalnya terjadi ketika BALAIRUNG mengupas Pancasila sebagai laporan utama pada edisi 18/Th.VII/1993. Ideologi negara yang cenderung tertutup dan berharga mati menggugah para pegiatnya untuk mencoba membuka katup-katup keterbukaan.

Tak disangka, niat baik ini memancing reaksi yang hebat dari berbagai pihak. Tak kurang Pangdam Diponegoro—yang membawahi wilayah militer Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah—memberi statemen pada media massa waktu itu, bahwa ada pihak ketiga yang menunggangi.

Konflik-konflik interest semacam itu tak hanya terjadi vertikal, melainkan juga horisontal—antar awak BALAIRUNG sendiri. Kerap diusulkan agar tulisan-tulisan di BALAIRUNG tak menyentuh wilayah-wilayah yang—masa itu—sensitif. Namun anjuran itu selalu saja dimentahkan. Betapapun, mahasiswa sebagai golongan terpelajar tak boleh semata-mata hanya terjebak pada realitas, sehingga tumpul untuk bersikap reflektif. Bagaimanapun, katup-katup keterbukaan harus segera dibuka. Dan BALAIRUNG terus melaju dengan pandangannya itu.

Topik-topik seperti dominasi eksekutif, Tapol (tahanan politik), ekstrim kiri dan kanan, kelas menengah, buruh, kecurangan ekonomi, nuklir, sampai pemborosan teknologi tinggi a la Habibie menjadi contoh garapan BALAIRUNG tiap edisi. Wahana sebagai—meminjam istilah Daniel Dhakidae (1977)—“cagar alam kebebasan pers” benar-benar dimanfaatkan. BALAIRUNG adalah media pertama yang berhasil dan “berani” mewawancarai Pramoedya Ananta Toer sebebasnya ia dari tahanan. Hal itu memunculkan polemik dan stigma yang bermacam-macam. Apalagi ketika BALAIRUNG mengangkat tema Bebas Hambatan Ideologi Kiri pada edisi 29/Th.XIII/1998, tak kurang Harian Kompas menyebut Komunitas B-21, tempat BALAIRUNG bermarkas, sebagai sarang orang kiri.

>> Masa Transisi dan Reposisi Paradigma Gelombang Pertama

Pasca-1998 menjadi masa yang berat bagi pers mahasiswa, termasuk BALAIRUNG. Para pegiat persma mengalami disorientasi. Wilayah-wilayah sensitif yang sebelumnya tak “terjamah” pers umum, dan menjadi lahan garapan mereka, sontak berbalik. Sajian tulisan panas, kritis, menggigit, dengan segala bumbu analisis yang lugas kini bebas disajikan pers umum. Imbasnya, pers mahasiswa kehilangan wilayah spesialnya. Dengan periode terbit yang tak jelas, oplah yang kecil, distribusi yang terbatas, pers mahasiswa tentu bukan tandingan pers umum (jika menyajikan isi yang sama).

Tak istimewa lagi menulis berita politik. Sebab, Tempo, Gatra, dan Forum hampir tiap minggu menyajikannya. Sehingga, jika ingin tetap eksis, pers mahasiswa harus melakukan reposisi.

Dalam konsep manajemen, sebuah organisasi akan mengalami fase lahir, berkembang, titik puncak, lalu mati. Agar tak mengalami titik balik setelah mengalami titik puncak, perusahaan harus melakukan repositioning. Sebagai misal, untuk mengatasi kejenuhan pasar deterjen di kelas A dan B, PT Unilever meluncurkan Surf. Ini, selain untuk mempertahankan pemasukan perusahaan, juga sekaligus untuk mengamankan posisi Rinso yang bermain di kelas atasnya. Sehingga, Daia yang menjadi perongrong Rinso di pasar kelas menengah harus berhadapan dengan Surf. Hasilnya, saku Unilever aman, pangsa pasar justru bertambah.

Pada 1999, BALAIRUNG mencoba beralih dari konsep jurnalisme biasa menjadi jurnalisme integral (Integrated System of Journalism—ISoJ), sebagai bentuk reposisi. Prinsipnya, satu edisi BALAIRUNG hanya berisi satu tema besar yang ditulis dalam banyak perspektif. Konsep rubrikasi masih tetap dipertahankan. Hanya saja, tidak bersifat paten/mutlak.

BALAIRUNG Edisi 30/Th. XIV/1999, yang bertajuk Membaca Ekspresi Jogja, merupakan nomor perdana hasil repositioning pasca-1998. Dalam satu edisi itu Jogja dikuliti dari berbagai sudut pandang, sesuai rubrik yang ada di BALAIRUNG—seperti Politik, Ekonomi, Budaya, Sejarah, atau Teknologi. Semuanya mendedahkan Jogja setuntas-tuntasnya.

Konsep ISoJ dipakai karena dipandang lebih serius daripada sistem rubrik per rubrik dengan tema yang berbeda-beda. Kematangan analisis, serta komprehensivitas pembahasan, dirasa lebih optimal dilakukan lewat konsep integral. Dan itu dilakukan terus sampai edisi 35. Tema-tema yang diangkat adalah tema-tema yang timeless, tak cepat basi, dan lebih bersifat wacana (pers discourse). Ini dilakukan untuk menyiasati periode terbit pers mahasiswa yang tak pernah bisa tertib.

Reposisi itu itu pada dasarnya merupakan contoh konkret bahwa BALAIRUNG masih tetap dan ingin eksis. Meski fungsi-fungsi massifikasi informasinya telah kalah oleh pers umum, toh masih ada posisi strategis lain dalam menyikapi perubahan zaman.

>> BALAIRUNG KORAN: Bentuk Penyikapan Lain

Pada 1999, seiring dikeluarkannya PP 61/1999 tentang otonomi kampus, berbagai gelombang penolakan melanda UGM. Isu otonomi dicurigai merupakan kepanjangan neo-liberalisme. Sebab, ide otonomi yang dikemudian dijabarkan dalam PP tersebut datangnya justru bukan dari pemerintah, melainkan lembaga-lembaga asing yang notabene tak bersih kepentingan. Otonomi yang dimaksud juga sama sekali lain dengan isu “otonomi” yang dituntut mahasiswa pada awal 1990-an. Jelasnya, otonomi kampus sekadar kamuflase pemerintah agar subsidi pendidikan berkurang. Mahasiswa kembali menggeliat.

Beberapa elemen kampus yang peduli dengan pendidikan kemudian mendirikan Komite Aksi Pendidikan Kerakyatan (Komite APIK). Selain untuk menyikapi dan mengkritisi otonomi, komite ini juga diposisikan untuk merespon berbagai masalah pendidikan secara umum di UGM. Dan BALAIRUNG, sebagai bagian dari elemen kemahasiswaan, turut serta dalam komite tersebut.

Menyadari bahwa kerja-kerja di Komite APIK merupakan kerja jangka panjang, BALAIRUNG memandang perlu untuk memfokuskan dukungannya pada bentuk-bentuk partisipasi yang lebih sesuai dengan karakter organisasinya, agar kesinambungan dan intensitas keterlibatan bisa terjamin. Sebagai lembaga penerbitan, BALAIRUNG bertugas memberikan pasokan data yang berkaitan dengan otonomi. Selain itu, untuk memasalkan isu, diterbitkanlah koran dinding BALAIRUNG KORAN.

Satu catatan penting pasca ’98, selain adanya transformasi peran kritis pers dari pers mahasiswa ke pers umum, pers mahasiswa juga tercerabut di kampusnya sendiri. Sehingga, selain untuk mem-back-up Komite APIK, penerbitan BALAIRUNG KORAN juga dimaksudkan untuk mengembalikan BALAIRUNG ke komunitasnya (community paper). Sebelum 1998, pers mahasiswa memang bisa dikatakan tercerabut dari akarnya, yaitu dunia kampus. Mereka asyik-masyuk dengan isu-isu dan gagasan besar tingkat nasional. Kampus hanya sekadar menjadi tempat berdomisili, dan bukan inspirasi. Pun demikian halnya dengan BALAIRUNG.

Pada edisi perdana, yang terbit Selasa, 25 April 2000, redaksinya menulis:

===============================
“Selain sebagai sebuah institusi, UGM dengan lebih 35 ribu penghuninya, adalah entitas sosial yang saling berinteraksi. Seharusnya begitu. Hanya saja entitas itu harus tersekat-sekat oleh label fakultas, jurusan, ataupun letak geografis (kampus barat dan kampus timur) tanpa ada media komunikasi yang cukup. Fakultas adalah fakultasnya sendiri, yang tidak (merasa) perlu tahu apa yang terjadi di fakultas lain. Kampus lalu menjadi begitu sempit. Padahal seharusnya bisa saling bersinergi melewati batas spesialisasi ilmu yang telah terbentuk. Dan sekali lagi, hal itu butuh sebuah media komunikasi.

Oleh alasan itulah KORAN BALAIRUNG hadir, menggarap kembali lahan yang telah lama ditinggalkan…”
===============================

Setelah mencapai edisi ketiga belas, koran dinding seukuran A2 (42 x 59 cm) itu dihentikan terbitnya. Bukan untuk dibunuh, melainkan dievaluasi. Hasilnya, pada 27 Oktober 2000, warga Kampus Biru disuguhi media kecil (newsletter) berukuran B4 (25 x 35 cm). Namanya sedikit berubah: BALKON. Newsletter ini dicetak sebanyak 2000 eksemplar dan dibagikan secara gratis, tiap Jumat, di 18 fakultas yang ada di UGM.

Mengenai perubahan nama ini, dalam pengantar redaksi (Interupsi) ditulis:

===============================
“Lalu, mengapa namanya Balkon? Pertama, kami menganggap nama Balkon—akronim dari Balairung Koran—lebih ramah diucapkan, didengar, dan nyangkut di otak. Kedua, balkon sendiri berarti panggung (tempat yang posisinya lebih tinggi).

Nah, bila kita memandang dari posisi yang lebih tinggi, maka apa yang dipandang makin jelas dan cerah. Itulah yang kami harapkan. Balkon mampu menghadirkan cara pandang yang lain, informasi baru, dan media bagi civitas UGM berbisik dan berbagi gagasan.”
===============================

Format newsletter dipilih, demikian terus pengantar tadi, agar BALKON mudah dijinjing dan dibaca di tempat yang diinginkan. Edisi perdana yang terbit 8 halaman ini kemudian hari berkembang menjadi 12 dan 16 halaman per minggunya. Masih tetap gratis. Pembiayaan 100% diperoleh dari iklan-iklan lokal Jogja.

>> Jurnal: Reposisi Gelombang Kedua

Tuntaskah reorientasi pers mahasiswa? Permasalahannya memang demikian kompleks untuk dengan mudah dituntaskan. BALAIRUNG sendiri dalam Musyawarah Besar 2002, tepatnya pada 9 Juli, memutuskan berubah sepenuhnya ke dalam bentuk jurnal. Konsep jurnal dipandang sebagai jawaban paling realistis jika melihat perkembangan zaman.

Sudah sepatutnya mahasiswa, sebagai komunitas intelektual, tak lagi melulu bergelut dengan jurnalisme semata. Melainkan mencoba menggali pemikiran/kajian yang lebih serius. Dan jurnal menjadi sebuah wadah sekaligus tantangan untuk mengasah kematangan. Bukan hanya kemampuan menulis, melainkan juga daya nalar dan intelektualitas.

Melalui jurnal, ciri pers mahasiswa yang ditengarai Daniel Dhakidae menganut asas advisory journalism (jurnalisme menantang) dan political-state-oriented juga bisa lebih terhindarkan. Mengingat, diferensiasi peran kritis pers dari pers mahasiswa ke pers umum telah makin mengentara. Sehingga, pers mahasiswa harus mencari posisi baru untuk tetap bisa bermain. Jurnal dipilih karena ia menawarkan “kematangan” dan kelapangan bereksperimen. Ada tuntutan serius ketika mengelola sebuah jurnal.

Sejak edisi perdana, BALAIRUNG sebenarnya telah patut disebut jurnal. Berisi kompilasi tulisan mahasiswa dan pakar tentang industrialisasi, nomor perdana itu memberikan ciri BALAIRUNG sepenuhnya. Apalagi, tanpa bermaksud menyombongkan diri, sejak awal penerbitan mahasiswa UGM generasi ketiga ini telah bermottokan “Nafas Intelektualitas Mahasiswa”. Semboyan ini sebenarnya diposisikan lebih sebagai bentuk karakter dan komitmen yang ingin terus dijaga BALAIRUNG dalam dinamika kemahasiswaan.

Penekanan pada sikap intelektual ini di antaranya bisa dilihat dari pola Temu Wicara dalam pembahasan gagasan-gagasan atau isu yang hendak diangkat BALAIRUNG. Di sana, mahasiswa dan pakar yang berkompeten dengan isu yang bersangkutan bertemu dan berdiskusi. Sehingga, bisa dikatakan bahwa sejak awal BALAIRUNG memang bukanlah majalah “murni”, seperti halnya Tempo, Gatra, Forum, atau pers mahasiswa lain. Dia lebih bisa dikatakan sebagai bentuk transisi antara majalah mahasiswa dan jurnal ilmiah. Orientasi filosofis redaksionalnya merupakan ketegangan antara jurnalistik dan keilmiahan.

Menghadapi masa disorientasi pasca-‘98, posisi yang “ambigu” itu hendak diperjelas. Dan jurnal dipilih sebagai bentuk ketegasan sekaligus repositioning BALAIRUNG. Meminjam Nirwan Dewanto, perihal watak jurnal, tak ada semangat penjelajahan untuk menghasilkan sesuatu yang baru—atau avant-gardisme dalam peralihan ini. Jurnal dipilih semata karena ia mewakili ciri yang tidak menjebakkan diri pada realitas.

>> Rencana Pengembangan BALAIRUNG

Sebagai sebuah lembaga penerbitan yang telah berusia 17 tahun, BALAIRUNG masih terus mengalami perkembangan. Untuk menyesuaikan diri dengan perubahan, BALAIRUNG telah menyusun konsep Rencana Pengembangan Jangka Menengah (RPJM) BALAIRUNG. Adapun poin-poin penting yang masuk dalam RPJP di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Pengembangan Riset dan Dokumentasi
Perubahan menjadi jurnal membuat riset dan dokumentasi menjadi hal penting buat BALAIRUNG. Selayaknya jurnal, BALAIRUNG juga memerlukan data-data segar dan baru untuk isinya. Jika selama ini yang mengedepan adalah wacana dan berbagai paradigma-teoritik, sudah saatnya data ditengok dan ditampilkan. Kelemahan media yang ada selama ini adalah ketidakmampuannya mengubah fakta menjadi data. Padahal, ada banyak sekali fakta di sekitar kita. Lewat riset yang kuat, kelemahan itu bisa diatasi.

Sebuah lembaga penerbitan juga harus ditopang oleh dokumentasi yang rapi. Tiap data yang terkumpul adalah modal yang berharga. Sehingga, agar tidak menjadi the death capital, sistem pendataan dan pengolahan data harus diperbaiki.

Karena itulah, pada Juli 2002, untuk memantapkan riset dan dokumentasi, Divisi Penelitian dan Pengembangan BALAIRUNG diubah namanya menjadi Divisi Riset dan Dokumentasi (Risdok).

Selama perjalanannya, Litbang—yang kini telah bernama Risdok—telah dipercaya oleh lembaga lain untuk menangani penelitian yang disponsori lembaga bersangkutan. Selain itu, Risdok BALAIRUNG juga melakukan penelitian-penelitian mandiri, baik untuk kepentingan jurnal maupun hal-hal lainnya.

2. Pusat Informasi Pers Mahasiswa Indonesia (PIPMI)
Perpustakaan BALAIRUNG bisa dikatakan merupakan asset yang bisa dijadikan modal berharga di masa depan. Dengan 1500-an judul majalah dan jurnal, 600 judul buku, dan 1700 judul makalah dan penelitian, perpustakaan BALAIRUNG merupakan perpustakaan mandiri terbesar yang dimiliki lembaga mahasiswa.

Berkaitan dengan koleksi media mahasiswa, boleh dikatakan di sinilah arsip media mahasiswa paling lengkap di Indonesia. Untuk itulah, sejak 1997 BALAIRUNG mengembangkan PIPMI. Sebagai langkah awal waktu itu dibuat directory yang link ke hampir semua situs pers mahasiswa yang ada di Indonesia. Saat ini BALAIRUNG sedang menyiapkan penerbitan buku-buku yang berkaitan dengan segala aspek pers mahasiswa, mulai directory, sejarah, manajemen, hingga pengembangannya. PIPMI menjadi proyek percontohan lembaga penelitian pertama di UGM yang dikelola oleh mahasiswa.

3. Grup BALAIRUNG Media
Saat ini BALAIRUNG tidak hanya menerbitkan satu produk saja. Selain jurnal, BALAIRUNG juga menerbitkan Surat Kabar Dwimingguan BALKON, situs www.balairung.org, dan buku Kumpulan Cerpen Terpilih BALAIRUNG (KCTB) yang terbit tahunan.

Ke depan, BALAIRUNG merencanakan membentuk sebuah grup media yang semua pengelolaannya dilakukan oleh mahasiswa. Bukan hanya media, melainkan juga penerbitan buku dan percetakan lainnya. Sebagai langkah awal, BALAIRUNG sedang merintis pembuatan buku tentang manajemen pers mahasiswa.

4. Komunitas B-21
Rumah B-21, yang sejak 1989 ditempati BALAIRUNG, dalam perjalananannya telah berkembang bukan hanya menjadi tempat berkumpul para pegiat pers mahasiswa, melainkan juga para peminat kesenian, kebudayaan, atau bidang keilmuan lainnya. Pameran lukisan, pemutaran film, pameran foto, serta diskusi-diskusi aktif yang dilakukan anak B-21 menjadikan rumah sederhana di tengah kompleks perumahan dosen UGM itu komunitas yang dinamik.

Pada banyak titik, meskipun berkembang lebih awal, Komunitas B-21 diproyeksikan menjadi semacam “Komunitas Utan Kayu”-nya mahasiswa Yogya. Sehingga, sejak awal 2002, Komunitas B-21 mulai merancang aktivitas yang variatif untuk menyegarkan iklim “penjelajahan” yang “mencerahkan”.

Yogyakarta, 29 Oktober 2002

Tidak ada komentar:

Posting Komentar