Senin, 26 Oktober 2015

Kliwon

Dan perkutut yang selalu menyapaku setiap pagi dan petang selama hampir dua tahun terakhir, hari ini aku relakan menemui keabadian. Pagi tadi ia mati. Tersungkur sendirian di sarangnya. Aku bersedih karena ia mati tanpa sempat aku, anak dan istriku melihatnya. Ia mati dalam kesepian. Seorang satpam di kompleks rumahku menguburkannya dengan terhormat di bawah pohon mangga di halaman samping rumah di sebelah samping kali kecil.


Kliwon, nama perkutut kami itu, adalah pemberian Pak Paimun dari Santren, Madiun. Dia mengirimkannya padaku lewat Danang Sutrisno dan dibawa dengan naik kereta api Majapahit menempuh perjalanan hampir 15 jam. Usia Kliwon saat itu konon sudah melampaui 65 tahun. Ia dipelihara Pak Paimun sejak sebelum huru-hara berdarah 1965, masa ketika Pak Paimun harus kehilangan banyak hal: pekerjaan, anggota keluarga dan sahabat.

Aku belum bertanya kepada Pak Paimun, untuk alasan apa dia memberikan Kliwon kepadaku. Aku hanya tahu dari Danang, keinginan Pak Paimun memberikan Kliwon padaku sudah ada sejak setahun sebelumnya, setelah aku bertemu dan mendengar ceritanya tentang hura-hura berdarah 1965 di rumahnya di Madiun.

Lalu pada satu Sabtu sore, Kliwon tiba di rumahku, dan sehari sesudahnya ia mulai bersuara. Lembut dan panjang, tapi tegas. Suaranya mengungguli suara perkutut Bangkok milik tetangga rumahku. Orang-orang menyebut suara Kliwon, nutuk lima atau ketek rangkep karena suara depan, suara tengah, dan suara belakangnya lengkap. Bila Kliwon sedang aku kerek ke tiang, Kliwon akan menjadi perhatian: orang-orang yang mendengar suaranya [dan mengerti] akan berhenti sebentar di jalan di samping rumah dan memperhatikanya. Mereka menengadah sembari bersiul-siul memancing agar Kliwon terus bersuara.

Paling menyenangkan adalah mendengar suara Kliwon saat aku menulis, sementara dia tergantung di tiang kerekan. Suaranya yang diterbangkan angin danau, aku dengarkan seperti melambai-lambai hingga ke seberang danau. Kalau sudah begitu, pikiranku ikut terbang ke masa kecil di kampung di Situbondo, menemui wajah ibu-bapak dan para famili. Kliwon punya cara tersendiri untuk menghiburku.

Aku merawatnya dengan sepenuh hati. Hampir setiap hari aku membuang kotorannya dari sarang, memberinya makan dan minum, lalu mengereknya ke tiang yang sengaja aku pesan hanya untuknya. Sesekali aku memandikannya terutama bila Jumat manis. Aku mandikan ia dengan air bercampur remasan daun sirih. Aku biasanya merengkuh Kliwon dengan hati-hati dari sarangnya, sebelum aku usap-usap ia dengan air. Dimulai dari kepalanya, ekornya, sayapnya, duburnya, hingga seluruh badannya. Sesudahnya aku membuka sedikit paruhnya, lalu aku julurkan ludahku padanya agar ia mengerti, padanya ada bagianku, dan Kliwon tampaknya memang mengerti bahwa ia menjadi bagian dariku, anggota keluargaku.

Pagi-pagi selesai shalat subuh, ketika aku, anakku atau istriku membuka pintu rumah, ia biasa selalu menyapa dengan suaranya yang khas seolah mengucapkan salam. Begitu juga ketika anak dan istriku pulang ke rumah di sore hari, Kliwon akan berbunyi seolah menyampaikan selamat datang. Sering aku mengajaknya berbicara, membagi rasaku padanya tentang apa saja. Dan Kliwon biasanya hanya menatapku. Mata hitamnya yang bening seperti manik hitam yang berkilau, seolah menasehatiku agar selalu bersabar dan bertahan. Ia perkutut yang punya jiwa.

Mungkin karena faktor usianya yang sudah tak muda. Mungkin karena Kliwon sudah terlatih, meski aku kira ia tak hendak membuktikan apa-apa. Tak juga sebagai perkutut yang lebih berpengalaman atau lebih tahu tentang banyak hal, termasuk menjadi saksi peristiwa berdarah 1965 itu.

Ia hanya perkutut biasa. Milik Pak Paimun yang dihadiahkan padaku, dibawa dengan naik kereta api Majapahit dari Madiun ke Stasiun Senen, yang hari ini harus aku relakan ia menemukan keabadian. Bertemu Allah penciptanya. Aku, anakku dan istriku bersedih, karena ia mati tanpa seorang pun dari kami, anggota keluarganya, melihatnya saat ia mati.

(Rusdi Mathari)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar