Senin, 23 November 2015

Bertaruh

Kesal isu Pispot jadi liar, Pak RT memanggil Tuan Mopet, Bos Pispot pada suatu sore. Tuan Mopet agak terkejut tapi dia berhati-hati untuk bertanya pada Pak RT. Bagaimana pun bisnis Pispot di RT-nya Pak RT adalah bisnis yang menguntungkan. Sudah berlangsung tahunan.

“Anda mau membahas masalah Pispot Pak RT?”
“Betul sekali Tuan Mopet.”
“Masalah perpanjangan kontrak karya?”
“Begini Tuan Mopet. Saya mau mengajak sampean untuk bertaruh...”
“Bertaruh? Ini masalah RT Anda. Anda tidak bisa main-main Pak RT.”
“Sudahlah Tuan Mopet hentikan omong kosong sampean. Sampean berani bertaruh atau tidak?”
“Bertaruh apa?”
“Waktu jadi pengusaha kayu, saya bertaruh macam-macam dengan orang, dan hampir selalu saya menang. Sekarang saya berani bertaruh untuk memperpanjang kontrak Pispot di RT kami sampai 10 tahun mendatang kalau biji sampean dalam 24 jam bisa berubah bentuk jadi kotak. Saya kasih sampean voor 4:1. Kalau sampean kalah, lima tahun lagi, Pispot harus hengkang dari RT kami. Berani?”

Tuan Mopet terkejut dengan tawaran Pak RT. Taruhan Pak RT tak wajar tapi dia mencium keuntungan di balik tawaran itu: Pispot bisa terus beroperasi dan mengeruk keuntungan. “Saya bukan tak berani bertaruh Pak RT. Saya hanya merasa tak pantas memperpanjang kontrak lewat taruhan. Anda Ketua RT dari RT yang berdaulat. Warga Anda bisa ribut. Lagi pula tidak mungkin Anda akan menang kalau taruhannya begitu.”

Merasa Tuan Mopet tak yakin, Pak RT segera menunjukkan setumpuk dokumen ke-RT-an tentang perpanjangan kontrak Pispot yang siap ditekennya jika dia kalah taruhan. Mata Tuan Mopet berbinar-binar. Dia mulai percaya Pak RT tidak main-main.

“Saya mengerti dan siap kalah Tuan Mopet. Sekarang sampean berani bertaruh atau tidak?”
“Baiklah, dengan sangat terpaksa saya menerima taruhan Anda Pak RT.”

Tuan Mopet berdiri sambil tersenyum malu-malu. Dijabatnya tangan Pak RT.

“Sampai bertemu besok sore,” Pak RT melirik jam tangannya, “Jam 2.15.”
“Sampai bertemu besok Pak RT. Jam 2.15.”
“Di Kantor RT...”
“Ya di Kantor RT.”

Sepulang dari kantor Pak RT, Tuan Mopet segera kembali ke rumahnya tapi sepanjang malam dia tidak nyenyak tidur. Hampir setiap 15 menit sekali, dia bangun hanya untuk memeriksa organ pentingnya atau sekadar meraba-rabanya, dan setiap kali itu pula, dia mendapati atau yakin, tak ada yang berubah dengan dua bijinya. Istrinya bingung dengan kelakuannya sebab bahkan sampai pagi, menjelang sarapan, Tuan Mopet masih sibuk bolak-balik ke kamar mandi hanya untuk memeriksa bijinya.

Sekitar dua jam setelah selesai makan siang, sebelum berangkat ke Kantor RT, Tuan Mopet sekali lagi memastikan bijinya tidak berubah. Dia meminta istrinya ikut mengecek, dan memang tidak ada yang berubah. Bijinya masih seperti semula: ada dua, bulat dan menggelantung. Dia percaya diri berangkat ke Kantor RT untuk menemui Pak RT. Di pikirannya membayang kontrak kerja 10 tahun, bisnis yang sangat besar, tapi tiba di Kantor RT, dia terkejut sebab seorang laki-laki tua, necis, berkumis tipis, juga ada di sana.

Tuan Mopet agak gugup. Sebelum bersalaman dengan Pak RT, dia meminta izin pergi ke toilet. Sekali lagi dan untuk terakhir kalinya, dia mengecek bijinya, dan tak ada yang berubah. Normal semua. Sempurna. Dia menarik napas, dan segera kembali ke Kantor Pak RT.

“Silakan duduk Tuan Mopet?”
“Terima kasih Pak RT. Kalau boleh tahu, bapak ini siapa?”
“Oh ini wakil saya. Perkenalkan, Pak Wakil RT. Pak Wakil, ini Tuan Mopet...”

Kedua orang itu bersalaman dan membagi senyum.

“Sampean keberatan wakil saya jadi saksi Tuan Mopet?”
“Sama sekali tidak Pak RT. Menurut saya malah bagus.”
“Saya kira juga begitu. Wakil RT ini supaya tahu dan percaya, soal perpanjangan kontrak Pispot yang baru, seandainya saya kalah taruhan dengan sampean.”
“Saya setuju Pak RT. "
"Ok bisa segera kita mulai Tuan Mopet?"
"Bisa Pak RT. Sekarang sudah jam 3.20, dan tidak ada perubahan apa-apa pada biji saya. Saya pikir saya menang.”
“Saya berpikir juga begitu,” jawab Pak RT, “Tapi saya akan menambah nilai taruhan. Sampean keberatan?”
“Tergantung. Apa tambahannya Pak RT?”
“Saya akan memperpanjang kontrak Pispot sampai 20 tahun bila sampean tidak keberatan saya memeriksanya langsung.”

Tuan Mopet terkejut. Dia berpikir sungguh bodoh Pak RT dan merasa inilah saatnya keuntungan bagi Pispot. Dan untuk semua kemewahan itu tidak ada alasan untuk tidak memberikan bukti, untuk menunjukkan bijinya. Lagi pula hanya Pak RT yang akan melihatnya dan seorang lelaki tua. Dia percaya Pak RT dan wakilnya tak akan menceritakan yang sebentar lagi akan mereka lihat. Jadi tak ada yang perlu dikuatirkan.

“Tuan Mopet bisa kita mulai..?”
“Sekarang Pak RT?”
“Ya silakan Tuan Mopet, turunkan celana sampean.”

Tuan Mopet membuka gasper sabuk kulitnya, lalu menurunkan resleting celananya. Dia sedikit grogi menurunkan celana panjangnya, dan segera terlihat cawat boxer warna merah jambu.

“Celana dalamnya juga diturunkan Tuan Mopet...”
“Baiklah Pak RT...”
“Pelan-pelan saja...”

Tuan Mopet berpikir untuk mendapat keuntungan dan kejayaan bisnis memang dibutuhkan pengorbanan. Dia akan melakukan pengorbanan besar itu, sore ini. Perlahan dia memelorotkan boxer-nya. Dan ini dia: bijinya yang dipertaruhkan terlihat mengkilap di bawah bulu-bulu kemaluannya. Tak ada yang berubah. Dua bijinya tetap bulat seperti kelereng. Menggelantung di kulit yang mulai agak kisut.

“Baiklah Tuan Mopet, sampean menang. Selamat. Kontrak Pispot diperpanjang sampai 20 tahun.”

Tuan Mopet tersenyum malu, tapi dua matanya tak bisa menyembunyikan tatapan kemenangan. Pak RT meletakkan dokumen perpanjangan kontrak di meja dan segera ditekennya, tapi bersamaan dengan itu, lelaki tua berpenampilan necis yang sebelumnya hanya duduk memperhatikan percakapan Pak RT dan Tuan Mopet, berdiri. Dia merapat ke dinding dan segera membentur-benturkan kepalanya. Dari mulutnya terdengar suaranya seperti menggeram.

“Sakitkah dia Pak RT?” Tuan Mopet kebingungan.
“Tidak. Dia dan saya sama-sama bekas pengusaha. Biasalah kalau kalah taruhan.”
“Anda bertaruh juga dengan dia, Pak RT?”
“Tentu saya bertaruh dengan dia.”
“Bertaruh apa?”
“Saya bertaruh: kalau saya bisa menyuruh sampean melorotkan celana sampean, dia akan meletakkan jabatan sebagai Wakil RT, tak akan lagi merecoki pekerjaan saya sebagai Ketua RT termasuk untuk urusan Pispot.”
“Oh I see...”
“Ya kami sebetulnya pasangan yang tidak cocok. Sudah sejak pemilu dia sebetulnya ingin jadi Pak RT. Berharap menggantikan saya di tengah jalan. Dia hanya pura-pura mendampingi saya, tapi sekarang dia sudah kalah taruhan...”
“Selamat Pak RT. Kita sama-sama menang taruhan.”
“Sama-sama Tuan Mopet...”

Suara lelaki tua itu semakin menggeram. Tangan kanannya, kini ikut dipukul-pukulan ke dinding. Dia merasa kalah berkali-kali.

‪#‎seninpolitik‬

Tidak ada komentar:

Posting Komentar