Senin, 23 November 2015

Sesi Terakhir

Menutup "tour de Batam" bersama kawan-kawan SMK Ma'arif yang dirintis oleh Nahdatul Ulama. Ini adalah angkatan pertama, yang terdiri dari 18 siswa dengan program studi multimedia. Para siswa kelas satu ini punya beragam cita-cita: dari dokter, desainer, fotografer, berwirausaha, hingga pemain film.


Saya senang mendengarnya. Sebab, Badan Pusat Statistik (BPS) tahun lalu merilis data bahwa persentase pengangguran terbesar di Indonesia saat ini justru didominasi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yang sebenarnya justru didesain untuk siap kerja.

Dari 7,2 juta penganggur di Indonesia, 11,24 persen adalah lulusan SMK. Sementara jebolan SMA justru hanya 9,5 persen. Kondisi ini juga terjadi tahun 2013, dan angkanya meningkat, meski tipis.

Ini adalah lampu kuning bagi pemerintah yang menargetkan rasio SMK dan SMA menjadi 60:40.

Salah satu faktor penting bagi sekolah-sekolah kejuruan adalah workshop, atau infrastruktur dan fasilitas praktik. Entah itu mesin, penerbangan, perkapalan, perhotelan, atau multimedia. Tanpa workshop atau tempat praktik yang memadai, ibarat mendirikan sekolah renang tanpa kolam renang. Atau sekolah kedokteran tanpa rumah sakit.

Di sisi lain, konsep sekolah kejuruan seyogyanya bukan hanya mencetak blue colar workers (buruh untuk suplai tenaga kerja sektor industri), juga membekali siswanya dengan life skill yang dapat mereka kembangkan pada konteks lingkungan sosio-ekonominya, hingga pada skala usaha rumahan.

Mereka harus dididik menguasai dan mengelola alat produksinya sendiri. Bukan hanya operator atas alat produksi (industri) orang lain.

(Dandhy Dwi Laksono)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar