Kamis, 12 November 2015

Membayangkan Jadi Orang Lain

Setiap bertemu seseorang, saya sering membayangkan menjadi orang tersebut. Dua hari lalu, dalam perjalanan menuju bandara Halim, saya naik angkot 02 menuju halte arion. Supirnya masih muda, dengan rambut belahan pinggir, tangan kanannya memegang setir dan tangan kirinya memegang beberapa lembar uang ribuan. Tiba-tiba terlintas dalam pikiran seandainya saya menjadi supir tersebut, alangkah hebatnya menyetir dengan satu tangan.

Itu yang bikin saya iri, saya pernah belajar les mobil selama satu minggu di Simpang Lima. Tapi karena setelah les saya jarang memegang mobil lagi, saya tetap tidak mahir sampai sekarang. Saya masih menyesal kenapa sampai sekarang tetap tidak bisa menyetir mobil, sama menyesalnya kenapa tidak bisa berenang.

Satu lagi, dua hari belakangan saya belajar dari seorang wartawan senior. Dari ceritanya, saya membayangkan punya kesabaran, keberanian ketabahan, dan sesekali kenakalan yang ia miliki. Saya penasaran sekali bagaimana ia bisa menulis dengan begitu detail, dan indah. Kalau mengkritik pemerintah, ia menggunakan cara menyisir dari pinggir. Tahu-tahu, plak! Seperti yang dilakukan Roberto Carlos di Brazil atau Aji Santoso di Persebaya.

Satu yang saya tidak ingin tiru, dari kemarin ia masih menggunakan kata "merubah". Saya mendengar lebih dari 5 kali kata itu diucapkan. Seperti yang dulu dilakukan kawan saya di B-21, saya selalu mau respon dengan teriak "mengubah!" dan ingin bertanya "memangnya ingin jadi rubah?" Tapi entah kenapa lidah ini terasa kelu kalau berhadapan dengannya. Jadi saya tahan diri untuk tidak bilang secara langsung di forum, dan saya memutuskan menulis di Facebook, dengan harapan beliau membacanya. Karena pusat kesunyian ada di sini.

‪#‎RahimSunyi‬

Tidak ada komentar:

Posting Komentar