Rabu, 02 Desember 2015

Televisi

Kemarin, di kelas Media Penyiaran, ada mahasiswa yang bertanya tentang siapa yang patut disalahkan kalau ada tayangan televisi bermasalah. Bukankah tayangan yang bermasalah tersebut sering ditonton banyak orang dan bikin ratingnya tinggi jadi terus diputar stasiun televisi? Jadi masyarakat yang menonton ikut bersalah dong? Kalau diringkas inti pertanyaannya kira-kira tayangan televisi yang bermasalah terjadi karena selera masyarakat yang buruk.

Setiap ada pertanyaan semacam ini saya selalu membalikkan pertanyaan. Tentu saja untuk menjawab itu akan tergantung cara melihat atau perspektif yang digunakan. Pertanyaan saya, apakah media (tentu termasuk televisi) adalah cerminan masyarakat/realitas (mirror of reality)? Atau media mengonstruksi realitas (construct reality) dan menentukan apa yang bisa dan mesti ditonton/dibaca orang? Siapa yang punya kuasa atas pilihan-pilihan bisa atau tidak bisa menonton tayangan televisi? Sejauh apa publik/penonton bisa aktif terlibat menentukan/meresepsi isi media?

Tapi kalau mengimani Neil Postman, problemnya bukan apakah tayangan televisi bagus atau tidak bagus. Problemnya adalah karena anda menonton televisi. Hehe.

*Senang bisa berdiskusi dengan adik-adik angkatan di komunikasi UGM. Maturnuwun mbak Gilang Desti Parahita yang udah ngundang*

(Wisnu Prasetya Utomo)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar