Senin, 09 November 2015

TAEK! PUTHUT EA

Siang ini pak pos mengetuk pintu rumah, membawa 4 buku dari Mas Eka Pojok Cerpen: TAEK! PUTHUT EA, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, Sarapan Pagi Penuh Dusta, dan bonus buku Perempuan Pala.


Kira-kira 5 tahun yang lalu aku mengenal penulis Yogya yang satu ini, dulu ia belum tenar seperti sekarang yang taek-nya pun diburu orang. Pembacanya juga mungkin hanya dari kalangan tertentu saja.

Buku pertama yang aku baca adalah Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (sekaligus buku Puthut yang paling sering aku beli karena berulang kali dipinjam dan tidak kembali). Kemudian menyusul kumcer-kumcer patah hatinya seperti Dua Tangisan Pada Satu Malam, Isyarat Cinta Yang Keras Kepala, Sarapan Pagi Penuh Dusta.

Ada rasa ganjil dan asing yang mengganggu setiap kali membaca buku Puthut. Tapi entah kenapa justru karena itu aku jadi ingin membaca semua karyanya. Mulailah pencarian yang nisbi melelahkan untuk mengumpulkan buku-bukunya. Dari mulai lapak loakan, toko buku online, hingga menghubungi Puthut langsung untuk menanyakan keberadaan bukunya.

Dari seluruh proses itu, yang paling menarik adalah Sebuah Kitab Yang Tak Suci. Aku mencari buku itu hampir 2 tahun. Dari mulai menghubungi reviewer di Goodreads untuk menawarkan diri membeli bukunya atau menukar buku itu dengan beberapa "buku langka" yang aku punya, mencoba menghubungi beberapa penjual buku langganan untuk meminta tolong mencarikannya, hingga bertanya pada Mas Puthut langsung. Hasilnya nihil.

Aku geram, penasaran setengah mampus! Lalu iseng membuat thread di Kaskus, semacam sayembara untuk mencari buku tersebut dengan sejumlah imbalan. Responnya luar biasa, maksudku luar biasa mengecewakan. Ada beberapa orang yang memilikinya tapi tidak mau menjual atau menukar buku itu. Malah banyak yang ikut-ikutan penasaran dan mencarinya untuk dimiliki sendiri.

Beberapa bulan setelahnya, aku mendapat kabar baik. Sebuah Kitab yang Tak Suci akan diterbitkan ulang secara terbatas dengan format hardcover. Alasannya, konon karena banyak "pengganggu" yang menanyakan buku itu pada Mas Puthut. Maafkan aku untuk yang satu itu mungkin efek domino dari thread Kaskus.

Menyoal karya dan selera, memang banyak penulis Indonesia yang lebih cemerlang dari Puthut. Tapi Puthut dengan gaya penulisan yang khas telah menempati sudut gelap dalam ruang sentimentil di daftar buku-buku yang aku suka. Tidak peduli seberapa bagus pencapaian estetis dari karya Puthut, aku selalu suka. Mungkin karena aku tumbuh sebagai pembaca fiksi melalui karya boss Mojok ini. Seperti banyak hal lainnya, yang mendampingimu tumbuh selalu punya ruang khusus yang absen dari rumusan ketat penilaian objektif.

Kesempatan bertemu langsung dengan Puthut aku dapatkan ketika acara syukuran 15 tahun berkarya di IFI Yogyakarta, April 2014. Sebagai fans garis keras, tentu aku senang. Aku bisa foto bareng dan diajak minum kopi bersama kawan-kawannya, yang belakangan namanya mulai sering terdengar, seperti panglima jomblo Agus Mulyadi.

Waktu terus berjalan, teman-teman seangkatan mulai meninggalkan kampus, dan tiba lah surat ancaman itu: Drop Out dari kampus. Deg!

Semenjak itu, aku mulai kembali giat ke kampus, menjalani kelas demi kelas yang absurd dan tidak pernah aku mengerti. Semester 13, dengan sisa 3 matakuliah, harus segera memulai skripsi, dan baru saja berpisah dengan kekasih setelah 4 tahun hubungan. Semua serba mendesak dan genting. Ya, 2015 menjadi tahun yang TAEK!

Aku mulai merapihkan pola hidup, menyusun kembali segalanya, termasuk merapihkan rak buku. Ketika merapihkan rak buku, aku mulai menyadari beberapa buku Puthut ternyata hilang. Dari 400an buku yang menumpuk di sana, aku memang tidak begitu ingat buku apa saja yang aku punya, beberapa di antaranya dipinjam kawan dan tidak pernah kembali. Tapi keterlaluan jika buku Puthut ikut hilang.

Baiklah, mungkin ini saat yang tepat untuk mulai lebih tertib merawat buku. Setidaknya, 16 buku Puthut yang aku miliki saat ini tidak boleh hilang lagi. Sebab, kamu tahu, kehilangan sesuatu yang mendampingimu hidup dan tumbuh bersama adalah sesakit-sakitnya luka!

TAEK! Puthut Ea

*Coretan panjang pertama kali di halaman Facebook. Untuk kedua orang yang aku tag dalam tulisan ini, aku mohon maaf jika curhatan tidak penting ini mengganggu makan siang kalian.

(Azhar Rijal Fadlillah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar